Sinergi Bunga Desaku: Pemkab Jember Dorong Sektor Pertanian Melalui Oplah, Bantuan Alsintan, dan Serap Aspirasi Petani

JEMBER, 2 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menegaskan komitmennya dalam memperkuat sektor pertanian dan ekonomi kerakyatan melalui program unggulan “Bunga Desaku” (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan). Program ini menjadi ruang dialog interaktif yang mempertemukan langsung jajaran pemerintah daerah dengan para petani, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), serta pedagang keliling (mlijo). Rangkaian kegiatan ini berlangsung di Kecamatan Sukorambi pada Minggu, 28 Juni 2026, dan dilanjutkan di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe pada Senin, 29 Juni 2026.
Melalui forum ini, Pemkab Jember tidak hanya memaparkan berbagai program strategis berskala besar, tetapi juga secara aktif menjaring persoalan riil di lapangan. Pendekatan partisipatif tersebut sengaja dihadirkan agar setiap kebijakan dan bantuan yang dikucurkan dapat dievaluasi secara berkala serta disesuaikan dengan kebutuhan mendasar masyarakat perdesaan, demi menjaga stabilitas ketahanan pangan daerah.
Anggaran untuk Optimasi Lahan dan Alsintan
Di hadapan ratusan anggota kelompok tani yang hadir, Bupati Jember Dr. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., mengumumkan adanya dukungan anggaran yang masif untuk sektor pertanian. Melalui sinergi antara Pemerintah Pusat di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Pemerintah Kabupaten Jember, telah dialokasikan anggaran sebesar Rp312 miliar untuk periode tahun 2025 hingga 2026. Alokasi dana yang besar ini diarahkan sepenuhnya untuk mendukung program Optimasi Lahan (Oplah), pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, serta berbagai program pendukung produktivitas lainnya.
Bupati yang akrab disapa Gus Fawait tersebut menekankan bahwa keberhasilan pembangunan di sektor pertanian tidak hanya diukur dari nominal anggaran atau banyaknya bantuan fisik yang digelontorkan. Ia mengingatkan para kelompok tani agar memiliki komitmen tinggi dalam menjaga, merawat, dan memanfaatkan seluruh bantuan infrastruktur maupun mesin pertanian tersebut secara bijak agar memberikan dampak positif dalam jangka panjang.
“Untuk tahun 2025 sampai dengan tahun 2026, Presiden Prabowo dan Bupati Jember menganggarkan Rp312 miliar untuk sektor pertanian, program Optimasi Lahan (Oplah), pengadaan traktor, dan lain sebagainya. Kalau sudah dibelikan traktor, jangan dijual. Intinya, seandainya ada bantuan alat pertanian dan lain sebagainya, harus dijaga,” tegas Bupati Fawait saat memimpin dialog.
Jalannya pemaparan program pertanian ini didampingi langsung oleh Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Jember. Kepala DTPHP Kabupaten Jember, Drs. Moh. Djamil, M.Si., hadir langsung bersama jajaran kepala bidang, di antaranya Kosim, Misnari, Luhur, Rudi, serta Kepala Bidang Hortikultura, Agung Satrio Setiawan, S.P., M.P. Kehadiran tim teknis secara lengkap ini mempertegas kesiapan dinas untuk terus mengawal dan melakukan pendampingan berkala agar seluruh program pertanian termanfaatkan secara optimal.
Merespons Aspirasi Petani: Pengendalian Hama hingga Akses Jalan Usaha Tani
Forum Bunga Desaku di Kecamatan Sukorambi dan Sumberjambe dimanfaatkan secara optimal oleh para petani untuk menyampaikan keluhan di lapangan. Di Kecamatan Sukorambi, seorang petani bernama Heru mengapresiasi efektivitas program penataan kios pupuk bersubsidi serta penyaluran alsintan yang dinilai semakin tepat sasaran. Namun, ia juga menyampaikan urgensi penanganan masalah hama yang kini membayangi wilayahnya. Heru berharap Pemkab Jember melalui DTPHP segera turun tangan melaksanakan Gerakan Pengendalian (Gerdal) Organisme Pengganggu Tumbuhan guna mengatasi peningkatan serangan hama tikus yang berpotensi menurunkan hasil panen warga.
Sementara itu, persoalan infrastruktur penunjang pertanian mengemuka dalam dialog di Desa Rowosari, Kecamatan Sumberjambe. Fathur Rozi, perwakilan dari Kelompok Tani Mekarsari, mengeluhkan tidak adanya akses jalan alternatif atau Jalan Usaha Tani (JUT) yang memadai menuju area persawahan di wilayahnya. Kondisi tersebut memaksa para petani memikul pupuk dan mengangkut hasil panen secara manual di atas kepala. Menanggapi kendala ini, Bupati Fawait langsung merespons dengan menginstruksikan pihak pemerintah desa setempat untuk segera melakukan pendataan lapangan agar kebutuhan akses jalan tersebut dapat ditindaklanjuti secara bertahap.
Aspirasi mendesak lainnya datang dari Agus, anggota Kelompok Tani Sumber Asih Desa Randuagung, yang menyuarakan keluhan para petani tembakau di kawasan Jember Utara terkait tingginya biaya produksi akibat belum adanya alokasi pupuk bersubsidi untuk komoditas tembakau. Terhadap persoalan tersebut, Bupati Fawait menjelaskan bahwa pemerintah daerah telah memperjuangkan hal tersebut dengan mengusulkan langsung kepada menteri terkait. Kendati demikian, ia memberikan pemahaman objektif kepada warga bahwa regulasi mengenai subsidi pupuk komoditas tembakau sepenuhnya merupakan domain kebijakan nasional dari pemerintah pusat yang berlaku mutakhir di seluruh Indonesia.
Transparansi Pupuk Subsidi dan Dampak Positif Layanan Multisektoral
Di tengah berbagai tantangan yang dihadapi, program pengawasan yang dijalankan oleh DTPHP Kabupaten Jember terbukti memberikan dampak positif yang signifikan bagi kenyamanan petani. Rudi Heriyanto, salah seorang anggota Kelompok Tani Mandiri Desa Sumberpakem, dengan sukarela memberikan testimoninya mengenai kemudahan memperoleh pupuk bersubsidi saat ini. Menurut Rudi, rutinnya kegiatan verifikasi dan validasi (verval) kios pupuk subsidi yang dilakukan oleh tim teknis dinas memastikan ketersediaan pasokan dan harga yang sesuai ketentuan e-RDKK, sehingga menghindarkan petani dari risiko kelangkaan.
Menariknya, program Bunga Desaku yang bersifat multisektoral ini juga membuka mata para pelaku sektor pertanian mengenai manfaat program jaminan sosial lainnya yang diusung pemerintah daerah. Dalam kesempatan yang sama, Rudi menceritakan pengalaman pribadinya yang sangat terbantu oleh program Universal Health Coverage (UHC) Kabupaten Jember. Seluruh biaya operasi persalinan istrinya di rumah sakit berhasil ditanggung sepenuhnya tanpa biaya di tengah keterbatasan dana yang ia miliki dan statusnya yang kala itu belum menjadi peserta BPJS Kesehatan.
Keberhasilan integrasi pelayanan ini tidak lepas dari sinergi lini bawah. Camat Sukorambi, Musyaffa, S.HI., M.M., bersama dengan Camat Sumberjambe, Djoni Nurtjahjono, S.H., M.Si., menyatakan komitmen penuh jajarannya untuk mengawal jalannya seluruh program prioritas Pemkab Jember. Penyerapan aspirasi yang matang, didukung dengan pengawasan distribusi pupuk yang ketat dan penguatan fasilitas ekonomi mikro seperti program Gerobak Cinta bagi pelaku UMKM seperti Fadil di Desa Klungkung, diharapkan mampu mempercepat laju pertumbuhan ekonomi perdesaan secara inklusif dan berkelanjutan.



