Jember Gencarkan Pengelolaan Sampah Mandiri Berbasis Masyarakat Melalui Bank Sampah dan Inovasi Akar Rumput

JEMBER, 3 Juli 2026 – Masyarakat di berbagai wilayah Kabupaten Jember kini semakin gencar menerapkan strategi pengelolaan sampah secara mandiri mulai dari lingkup lingkungan terkecil. Gerakan peduli lingkungan yang berkelanjutan ini berjalan masif berkat sinergi nyata di lapangan yang melibatkan gotong royong warga, pengurus RT dan RW, aparatur kelurahan, hingga kalangan akademisi di dunia pendidikan.
Langkah terpadu tersebut berfokus pada penguatan kesadaran memilah sampah dari tingkat rumah tangga, pengaktifan kembali jaringan bank sampah di desa maupun kelurahan, serta pengembangan inovasi ramah lingkungan yang murah dan aplikatif. Upaya kolektif ini merupakan implementasi nyata dari Surat Edaran Bupati Jember mengenai kebijakan dan strategi pengelolaan sampah secara mandiri guna menekan beban timbunan residu yang berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
Pembekalan KKN Kolaboratif 2026: Dorong Pembentukan Bank Sampah di Setiap Desa
Sebagai langkah awal intervensi di tingkat perdesaan, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Jember menggelar Pembekalan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Kolaboratif ke-5 Tahun 2026 bagi Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) dan ratusan mahasiswa pada Rabu, 1 Juli 2026, di Aula Dispendik Jember. Mengusung semangat kolaborasi lintas perguruan tinggi dan pemerintah daerah, Dispendik mendorong pembentukan dan penguatan bank sampah sebagai salah satu program kerja unggulan mahasiswa di lokasi pengabdian.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Jember, Arief Tjahyono, menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan dan motor penggerak sosial. Penanganan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah, melainkan membutuhkan edukasi yang konsisten di tengah masyarakat agar budaya memilah sampah organik dan anorganik dapat dimulai sejak dini dari lingkungan keluarga.
“Saya berharap mahasiswa bersama Dosen Pembimbing Lapangan mampu menciptakan atau mengembangkan bank sampah di desa-desa lokasi KKN. Program ini bukan hanya membantu mengurangi volume sampah di Kabupaten Jember, tetapi juga membangun budaya peduli lingkungan yang dimulai dari rumah tangga,” ujar Arief Tjahyono.
Gagasan ini diperkuat oleh paparan Susiatik selaku narasumber dari Forum Bank Sampah Jember, yang menjelaskan pentingnya bank sampah sebagai pusat edukasi untuk mengubah kebiasaan lama serta memberikan nilai tambah ekonomi sirkular dari sampah yang selama ini dianggap tidak berguna. Program kerja ini dinilai sangat realistis dan menyentuh kebutuhan langsung masyarakat oleh kalangan akademisi, salah satunya diapresiasi oleh Sri Wulandari, DPL dari Universitas PGRI Argopuro (Unipar) Jember, yang menyatakan kesiapannya dalam mendampingi mahasiswa berkolaborasi dengan pemerintah desa.
Penguatan Peran RT-RW dan Sukses Gerakan ‘Kupilah’ di Kelurahan Sumbersari
Aksi penataan sampah mandiri dari basis kewilayahan juga digulirkan secara intensif oleh Kelurahan Sumbersari melalui Rapat Koordinasi Penguatan Kapasitas RT dan RW yang digelar selama dua hari pada Selasa dan Rabu malam, 30 Juni hingga 1 Juli 2026, di Pendopo Kelurahan Sumbersari. Pertemuan ini membagi pembekalan dalam dua sesi yang diikuti oleh 97 Ketua RT/RW pada hari pertama dan 85 Ketua RT/RW pada hari kedua demi efektivitas ruang diskusi.
Sekretaris Camat Sumbersari Oko Rudi Widodo, SE., bersama Lurah Sumbersari Bhatara Pragusta, ST., menegaskan bahwa para pengurus RT dan RW merupakan ujung tombak untuk mengedukasi warga. Dengan menghadirkan narasumber Nurul Hidayah (Cak Oyong) dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Kabupaten Jember, rakor ini sukses mendorong penguatan gerakan Kupilah (Kurangi, Pilah, dan Olah).
Dampak positif dari koordinasi tersebut langsung terlihat pada Jumat, 3 Juli 2026, di mana antusiasme warga Sumbersari meningkat tajam. Warga dari berbagai kalangan berbondong-bondong membawa sampah anorganik yang telah dipilah dari rumah, seperti botol plastik, kardus, kertas, hingga logam, untuk disetorkan ke bank sampah setempat demi mengurangi timbunan sampah lingkungan sekaligus mendapatkan nilai ekonomi.
Sebelumnya, potret keberhasilan pengelolaan berbasis warga ini telah ditunjukkan oleh Bank Sampah Unit (BSU) Griya Ayu RW 025 Kelurahan Sumbersari. Saat ditinjau langsung oleh Lurah Bhatara Pragusta pada Minggu, 28 Juni 2026, kegiatan penimbangan rutin di BSU tersebut mencatatkan tingkat partisipasi masyarakat yang sangat tinggi. Ketua BSU Griya Ayu, Dina Putu, A.K., menjelaskan bahwa setiap penimbangan mampu mengumpulkan ratusan kilogram sampah anorganik yang kemudian didaur ulang melalui kerja sama dengan pengepul, di mana hasilnya dicatat dalam buku tabungan nasabah dan dibagikan setahun sekali.
Inovasi Sederhana Dropbox Sampah Anorganik di Kampung Zero Waste Kaliwates
Semangat kemandirian dan gotong royong dalam pengelolaan sampah anorganik juga ditunjukkan di Kecamatan Kaliwates. Bertempat di Kebun Kompos Kampung Zero Waste RT 01 RW 07 Kelurahan Kaliwates, warga bersama penggerak lingkungan Ani Farida melaksanakan kerja bakti pembuatan fasilitas dropbox penampungan botol dan gelas plastik pada Jumat, 26 Juni 2026.
Fasilitas pengumpulan sampah ini dirancang sebagai media edukasi dan percontohan (demonstration plot) bagi masyarakat. Penggerak Kampung Zero Waste, Ani Farida, menjelaskan bahwa sarana ini sengaja dibuat menggunakan material sederhana berupa kawat ram, besi, dan rangka besi bekas agar biaya pembuatannya relatif murah, terjangkau, serta mudah dikerjakan secara mandiri oleh warga di lingkungan RT maupun fasilitas umum lainnya. Sampah yang terkumpul selanjutnya akan disetorkan ke Bank Sampah DESTANA Kelurahan Kaliwates.
Lurah Kaliwates Abdul Khamil, S.Si., S.Sos., M.M., bersama Sekretaris Forum RTRW Kelurahan Kaliwates H. Indra Gunawan, memberikan apresiasi tinggi atas inovasi tersebut. Mereka menilai keberadaan fasilitas murah ini berhasil membuktikan bahwa menjaga lingkungan tidak harus dimulai dari sesuatu yang mahal, melainkan dari munculnya kesadaran bersama dan perubahan pola pikir untuk memilah sampah sejak dari rumah masing-masing.
Melalui rangkaian program yang berjalan simultan di berbagai wilayah ini, Pemkab Jember terus berupaya mengintegrasikan peran dunia pendidikan, aparatur kewilayahan, dan partisipasi aktif warga. Kolaborasi gotong royong ini diharapkan mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang terstruktur dan responsif, demi mewujudkan Kabupaten Jember yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan.



