Pemerintah Jember Wujudkan Apresiasi Nyata untuk Guru Ngaji dan Pengajar Agama melalui Program Insentif

Jember, 19 Oktober 2025 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember menunjukkan komitmen kuat dalam mengapresiasi peran guru ngaji dan pengajar agama melalui program insentif yang digagas oleh Bupati Jember, H. Muhammad Fawait, yang akrab disapa Gus Fawait. Program ini tidak hanya memberikan penghargaan finansial kepada para pendidik agama, tetapi juga menjadi simbol penghormatan terhadap peran mereka dalam membentuk akhlak dan karakter generasi muda. Dengan pendekatan yang inklusif, program ini menjangkau guru ngaji, modin, hingga pengajar agama non-Muslim, mencerminkan semangat kerukunan dan kebhinekaan di Jember.
Langkah Nyata Apresiasi Guru Ngaji
Program insentif guru ngaji menjadi salah satu unggulan dalam kepemimpinan Gus Fawait. Di Kecamatan Ajung, sebanyak 214 guru ngaji dari berbagai desa hadir di Pendopo Kecamatan pada 1 Oktober 2025 untuk membuka rekening Bank Jatim guna pencairan honor. Proses ini dirancang agar penyaluran dana lebih transparan, aman, dan tepat sasaran. Petugas Bank Jatim hadir langsung untuk membantu pembukaan rekening, verifikasi data, hingga penyerahan buku tabungan, memastikan pelayanan yang cepat dan tertib.
Sementara itu, di Kecamatan Tempurejo, penyaluran insentif dilakukan pada 5 Oktober 2025 di kantor balai desa masing-masing, meliputi Desa Tempurejo (40 penerima), Pondokrejo (56 penerima), Sidodadi (150 penerima), Wonoasri (105 penerima), Curahnongko (29 penerima), Andongrejo (61 penerima), Curah Takir (89 penerima), dan Sanenrejo (21 penerima). Khusus di Desa Andongrejo, petugas Bank Jatim dan pendamping Kesra Jember secara proaktif mendatangi rumah dua penerima yang sedang sakit, menunjukkan pelayanan yang humanis dan inklusif.
Di Kelurahan Jumerto dan Tegalgede, proses pencairan dilakukan di tingkat kelurahan untuk menghindari kerumunan di bank, memberikan kenyamanan bagi para guru ngaji. Sebanyak 70 guru ngaji di Tegalgede menerima insentif pada 11 Oktober 2025, termasuk seorang guru ngaji penyandang disabilitas, Lukman Hadi Kusuma, yang mengungkapkan rasa syukurnya atas perhatian pemerintah.
Simbol Kerukunan Lintas Agama
Puncak makna program ini terlihat di Desa Sumberjambe pada 7 Oktober 2025, di mana 49 penerima insentif, termasuk guru ngaji, modin, dan Pendeta Tjong Ferry Paulus dari Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Elim Sumberjambe, hadir bersama dalam suasana penuh kehangatan. Kehadiran pendeta beserta istri yang juga menerima insentif menegaskan bahwa program ini tidak memandang latar belakang keyakinan, melainkan menghargai semua pengajar agama sebagai pilar pembangunan moral masyarakat.
“Inilah wajah Jember yang sesungguhnya—rukun, damai, dan saling menghargai. Pemerintah hadir untuk semua,” ujar perwakilan Kecamatan Sumberjambe. Pendeta Tjong menyampaikan rasa terima kasih atas pengakuan terhadap pengabdiannya, sementara seorang guru ngaji dari Dusun Krajan menegaskan bahwa momen ini mempererat hubungan antarumat beragama.
Dampak dan Harapan Masyarakat
Para guru ngaji menyambut program ini dengan antusiasme dan rasa syukur. Ustadzah Siti dari Desa Pancakarya, Kecamatan Ajung, menyebut insentif ini sebagai bentuk penghargaan yang membahagiakan, meski mereka tidak pernah menuntut. Senada, Ibu Siti Busiah dari Tempurejo mengungkapkan bahwa bantuan ini menjadi penyemangat untuk terus mengajar Al-Qur’an dengan ikhlas. Lukman Hadi Kusuma dari Tegalgede bahkan mendoakan kesehatan dan kebijaksanaan Gus Fawait dalam memimpin Jember.
Namun, beberapa warganet di media sosial menyoroti tantangan prosedur pembukaan rekening, terutama bagi guru ngaji lanjut usia yang kurang familiar dengan administrasi perbankan. Meski demikian, mayoritas masyarakat mengapresiasi langkah Pemkab Jember, melihat program ini sebagai wujud nyata kepedulian terhadap pendidikan keagamaan nonformal.
Visi Jember Baru yang Religius dan Berakhlak
Menurut Gus Fawait, guru ngaji dan pengajar agama adalah pilar utama dalam membangun sumber daya manusia yang berakhlak mulia. “Saya lahir dan besar di lingkungan pesantren. Saya tahu betul perjuangan guru ngaji mendidik anak-anak kita tanpa pamrih. Pemerintah harus hadir untuk mereka yang membangun akhlak generasi bangsa,” ujarnya di Ajung. Ia juga berjanji untuk meningkatkan nilai insentif dan memperluas cakupan penerima di masa depan, sejalan dengan kemampuan anggaran daerah.
Program ini juga selaras dengan visi “Jember Baru, Jember Maju” yang menempatkan pembangunan moral dan kebhinekaan sebagai fondasi kemajuan. Sistem pencairan melalui rekening bank, memastikan transparansi dan akuntabilitas, mengurangi risiko penyelewengan dana, serta memudahkan penerima dalam memantau dana yang masuk.
Langkah ke Depan
Pemkab Jember berharap program ini dapat berlanjut dan diperluas ke seluruh kecamatan, dengan peningkatan nilai insentif yang lebih layak. Camat Ajung menegaskan bahwa keberhasilan di wilayahnya, dengan 214 penerima, menjadi tolok ukur bagi kecamatan lain. Sementara itu, Lurah Jumerto, Nurie Hidayati, mendorong guru ngaji untuk terus berkomunikasi dengan pemerintah guna menjaga kondusivitas dan mendukung pengembangan kegiatan keagamaan.
Program insentif ini tidak hanya memberikan manfaat finansial, tetapi juga memperkuat semangat para pendidik agama untuk terus mengabdi. Dengan pendekatan yang inklusif dan bermartabat, Jember menunjukkan model pemerintahan yang peduli terhadap pendidikan keagamaan dan kerukunan antarumat, menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.



