Terobosan Inklusif Program Home Care Jember Tembus Pelosok, Integrasikan Layanan Kesehatan, Sosial, dan Kependudukan

JEMBER, 26 Juli 2026 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember kembali membuktikan komitmennya dalam menghadirkan pelayanan publik yang berkeadilan tanpa sekat geografis. Melalui inovasi Program Home Care (atau Mobile Home Care), negara kini hadir langsung mengetuk pintu rumah warga. Tidak sekadar memberikan layanan medis secara proaktif, inisiatif ini juga terintegrasi erat dengan pemenuhan bantuan sosial serta pengurusan administrasi kependudukan secara “jemput bola” bagi kelompok rentan.

Dilaksanakan di berbagai wilayah seperti Kecamatan Bangsalsari, Sumberbaru, Jelbuk, hingga Sumberjambe program lintas sektor ini sukses memecahkan kendala mobilitas dan jarak tempuh yang selama ini membelenggu masyarakat pelosok untuk mendapatkan hak pelayanan dasar mereka.

Bantuan Sosial Melengkapi Pemeriksaan Medis bagi Kelompok Rentan

Rangkaian peluncuran program ini secara resmi dihadiri oleh Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) bersama Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Benjamin Paulus Octavianus, Sp.P., FISR. Kehadiran tokoh-tokoh penting ini menandai dukungan penuh pusat dan daerah terhadap optimalisasi pelayanan bagi masyarakat yang membutuhkan perhatian khusus.

Di Kecamatan Bangsalsari, Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Jember menyalurkan bantuan sosial berupa 110 paket sembako kepada sasaran Home Care. Kepala Dinsos PPPA Jember, Akhmad Helmi Luqman, S.Sos., menjelaskan bahwa bantuan ini bertujuan meringankan beban ekonomi sekaligus melengkapi layanan kesehatan.

Sebelum menerima sembako yang berisi beras, gula, minyak goreng, mi instan, dan kecap, ratusan warga tersebut menjalani registrasi dan pemeriksaan kesehatan dasar di Puskesmas Bangsalsari. Sasaran utama dari layanan terpadu ini meliputi:

  • Lanjut usia (lansia) dengan keterbatasan mobilitas.
  • Penyandang disabilitas.
  • Ibu hamil berisiko tinggi (bumil risti).
  • Balita yang mengalami stunting.
  • Pasien dengan penyakit kronis menahun.

Manfaat langsung dari inovasi ini amat dirasakan oleh Sadiman (70), seorang lansia penyandang disabilitas dari Sumberbaru. Keterbatasan fisik dan jarak rumah yang jauh kerap membuatnya kesulitan ke puskesmas dan harus bergantung pada tetangga. “Kalau nanti bisa diperiksa langsung dari rumah, tentu sangat membantu saya. Terima kasih sudah memikirkan rakyatnya,” ucap Sadiman dengan haru saat menghadiri acara peluncuran.

Kolaborasi Lintas Sektor Taklukkan Medan Terjal Pegunungan

Tantangan geografis tidak menyurutkan langkah tenaga medis untuk melayani warga. Di Kecamatan Jelbuk, tim UPTD Puskesmas Jelbuk bersama Polsek, Koramil, Pemerintah Kecamatan, dan Pemerintah Desa Sucopangepok bersinergi menyusuri perbukitan terjal menuju Dusun Tenap-Tancak. Daerah terpencil ini menjadi prioritas karena warganya sulit menjangkau fasilitas kesehatan.

Kepala UPTD Puskesmas Jelbuk, Machus Rovida, S.Tr.Keb., menegaskan bahwa jarak bukanlah penghalang. Di lokasi tersebut, tim memberikan layanan komprehensif, mulai dari pemeriksaan Antenatal Care (ANC) bagi ibu hamil, pemantauan ibu nifas, tumbuh kembang balita, hingga edukasi gizi dan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Plt Camat Jelbuk, Kukuh Hidayat, turut mengapresiasi kolaborasi lintas sektor ini. Menurutnya, warga di lereng pegunungan, seperti Desa Panduman dan Sucopangepok, memiliki hak yang sepenuhnya setara dengan warga di pusat kota. Kehadiran Mobile Home Care bukan sekadar pemeriksaan fisik, melainkan wujud rasa aman dan kepedulian negara di tengah medan yang sulit dijangkau.

Solusi Terintegrasi di Kaki Gunung Raung: Dari Kesehatan hingga Identitas Kependudukan

Sinergi birokrasi paling nyata terlihat di Kecamatan Sumberjambe. Saat tim Home Care mengunjungi Padukuhan Kebon Koong, Desa Gunungmalang di lereng Gunung Raung, mereka mendapati Toyati, seorang perempuan paruh baya yang lumpuh pada kedua kakinya. Tidak hanya terkendala kesehatan fisik, Toyati ternyata sama sekali belum pernah melakukan perekaman KTP elektronik (KTP-el) karena tidak bisa dan enggan menaiki kendaraan ke kantor pemerintahan.

Menindaklanjuti temuan tim medis, Tim Pelayanan Umum Kecamatan Sumberjambe yang dipimpin Suharyatik langsung mendatangi kediaman Toyati. Mereka melakukan perekaman biometrik jemput bola melalui inovasi Peta Cinta Mobile (Pelayanan Administrasi Kependudukan Tuntas di Tempat).

Pada saat yang bersamaan, Tim Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang dipimpin oleh Agus menyalurkan bantuan kasur, sembako, pakaian, dan perlengkapan salat. Terbitnya KTP-el bagi Toyati ini merupakan kunci vital untuk mendaftarkannya pada jaminan Universal Health Coverage (UHC) Prioritas. “Kasus Ibu Toyati menjadi bukti bahwa pelayanan di tingkat kecamatan harus saling terintegrasi. Ketika ditemukan persoalan kesehatan, kami langsung bergerak melengkapi kebutuhan administrasi dan sosialnya,” tegas Agus.

Inovasi Home Care yang digagas Pemkab Jember telah melampaui definisi standar dari sekadar layanan kesehatan keliling. Dengan memadukan intervensi medis, jaminan sosial (sembako), serta proaktivitas birokrasi (perekaman KTP di tempat), Jember berhasil menciptakan cetak biru pelayanan publik paripurna yang humanis dan responsif. Dedikasi menembus jalan-jalan terjal dan pelosok pegunungan ini memastikan bahwa semboyan “negara hadir” bukanlah isapan jempol belaka, melainkan realitas yang nyata dirasakan oleh masyarakat paling rentan sekalipun.

Related Articles

Back to top button