Hujan Lebat Picu Serangkaian Longsor di Kabupaten Jember, BPBD Lakukan Penanganan Darurat dan Mitigasi Cepat

Jember, 4 Maret 2026 – Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Jember sejak akhir Februari 2026 memicu beberapa kejadian tanah longsor di berbagai kecamatan. Dalam rentang waktu singkat, setidaknya tiga lokasi mengalami pergerakan tanah signifikan, yaitu di Kecamatan Tanggul, Sukorambi, dan Patrang. Kejadian-kejadian ini terjadi tanpa menimbulkan korban jiwa, namun menyebabkan kerusakan infrastruktur serta mengganggu akses dan keselamatan warga. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember segera merespons dengan penanganan darurat, distribusi bantuan logistik, dan rekomendasi mitigasi untuk mencegah longsor susulan.
Longsor Plengsengan Pasar Manggisan Tanggul
Pada Minggu (1/3/2026) sekitar pukul 16.00 WIB, robohnya plengsengan atau tembok pembatas terjadi di Dusun Teko’an RT 001/RW 027, Desa Tanggul Kulon, Kecamatan Tanggul. Longsoran tanah dengan tinggi sekitar 7,5 meter dan lebar 7 meter merusak tembok pembatas di area Pasar Manggisan Tanggul. Hujan lebat sejak Sabtu (28/2/2026) menyebabkan tanah jenuh air dan labil, ditambah faktor aliran air serta gerusan yang memperparah kondisi struktur pembatas.
BPBD Kabupaten Jember langsung berkoordinasi dengan pengelola pasar dan pihak terkait, melakukan assessment lapangan, serta mendokumentasikan kerusakan. Dua lembar terpal didistribusikan untuk menutup area terdampak guna mengantisipasi hujan susulan. Petugas pasar dan warga setempat memasang pagar pembatas sementara dari bambu dan seng untuk mengamankan zona berbahaya serta mencegah masyarakat mendekat.
Longsor Menutup Akses di Sukorambi
Di Dusun Curah Dami RT 001/RW 009, Desa Sukorambi, Kecamatan Sukorambi, longsor terjadi pada Sabtu (28/2/2026) setelah hujan deras sekitar pukul 15.30 WIB. Material tanah dengan tinggi sekitar 30 meter dan lebar 10 meter menutup jalan setapak yang menjadi akses warga menuju permukiman dan lahan pertanian. Penanganan darurat dilaksanakan pada Minggu (1/3/2026) pukul 14.00 WIB berdasarkan laporan Wadul Gus’e.
Tim BPBD berkoordinasi dengan perangkat desa dan Babinsa, melakukan asesmen, serta mendistribusikan tiga lembar terpal untuk menutup bidang longsoran. Warga bersama perangkat desa melaksanakan kerja bakti dengan menanam pohon dan membuat pembatas sementara dari bambu serta ranting. Kondisi tanah masih labil, sehingga risiko longsor susulan tetap tinggi apabila hujan intens kembali terjadi.
Ambrolnya Dinding Penahan Tanah di Patrang
Kejadian serupa berupa longsor dinding penahan tanah terjadi di Jalan Manyar RT/RW 003/003, Kelurahan Slawu, Kecamatan Patrang. Longsor setinggi sekitar 5,5 meter dan lebar 3 meter dipicu hujan lebat sejak siang hari Sabtu (28/2/2026), menyebabkan tanah di sekitar rumah warga menjadi jenuh dan tidak stabil. Penanganan darurat dilakukan BPBD bersama perangkat kelurahan pada Senin (2/3/2026) pukul 12.00 WIB, termasuk pemasangan satu lembar terpal ukuran 5×6 meter untuk mencegah infiltrasi air hujan.
Situasi dinyatakan terkendali sementara setelah penanganan selesai pukul 13.00 WIB. Namun, tanah di lokasi masih labil dan berpotensi longsor lanjutan. Pemerintah Kelurahan Slawu berencana menyediakan ban bekas sebagai penahan tambahan.
Rekomendasi Mitigasi dan Kewaspadaan Masyarakat
Di ketiga lokasi, tim mitigasi BPBD secara konsisten merekomendasikan peningkatan kewaspadaan terhadap longsor susulan, terutama saat hujan intens atau peningkatan debit sungai. Langkah pencegahan yang disarankan meliputi konservasi vegetasi dengan tanaman berakar kuat seperti vetiver, pengurangan kemiringan lereng melalui terasering, serta penghindaran pembangunan atau pemotongan tanah di lereng tanpa perhitungan teknis yang memadai. Kerja bakti penanaman pohon dan pembuatan penahan sementara menjadi upaya awal yang telah dilaksanakan warga dan pemerintah desa/kelurahan.
Penanganan cepat dan sinergi antara BPBD Kabupaten Jember, perangkat desa/kelurahan, Babinsa, pengelola pasar, serta masyarakat setempat berhasil menjaga situasi tetap terkendali tanpa korban jiwa. Masyarakat diimbau untuk terus memantau kondisi cuaca dan segera melaporkan tanda-tanda pergerakan tanah guna meminimalkan risiko bencana serupa di masa mendatang.



