Banjir Melanda Sejumlah Kecamatan Jember, Korban Jiwa dan Kerusakan Infrastruktur Tercatat

Jember, 23 Februari 2026 – Kabupaten Jember, Jawa Timur, dilanda banjir besar akibat hujan deras berkepanjangan pada pertengahan Februari 2026. Bencana hidrometeorologi ini berlangsung sejak Kamis, 12 Februari 2026 pukul 18.00 WIB hingga beberapa hari berikutnya, dengan puncak dampak tercatat hingga 19 Februari 2026. Menurut laporan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember, banjir memengaruhi 10 kecamatan, meliputi 19 desa dan 4 kelurahan, serta menimbulkan kerugian material signifikan bagi 7.445 kepala keluarga (KK). Satu warga meninggal dunia akibat tersengat aliran listrik saat membersihkan rumah pascabanjir.

Pemicu Banjir: Hujan Ekstrem dan Luapan Sungai

Bencana ini dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang mengguyur wilayah Jember mulai pukul 12.00 WIB hingga malam hari pada 12 Februari 2026. Kejadian tersebut sejalan dengan peringatan dini Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur periode 10–20 Februari 2026. Akibat curah hujan lebat, debit air meningkat drastis di sejumlah sungai utama, termasuk Sungai Bedadung, Kalijompo, Dinoyo, Kaliputih, Kaliklepuh, Rembangan, Karangbayat, dan Gondangdia. Pada pukul 18.00 WIB, air sungai mulai meluap ke permukiman warga, dengan ketinggian genangan bervariasi antara 30 sentimeter hingga 2 meter. Luapan tersebut menyebabkan genangan luas di permukiman, kerusakan infrastruktur, serta gangguan mobilitas masyarakat akibat akses jalan terendam dan kemacetan lalu lintas.

Wilayah Terdampak dan Kerugian Material

Banjir melanda 10 kecamatan, yaitu Rambipuji, Balung, Wuluhan, Kaliwates, Bangsalsari, Sukorambi, Panti, Ajung, Kalisat, dan Puger. Dampak terparah tercatat di Kecamatan Rambipuji dengan 3.774 KK terdampak, diikuti Balung (1.581 KK), Wuluhan (1.464 KK), Bangsalsari (316 KK), dan Kaliwates (220 KK). Kerusakan infrastruktur meliputi 21 rumah rusak ringan, 1 rumah rusak sedang, 4 jembatan ambruk, 1 masjid ambruk, serta terendamnya 1 pondok pesantren, 1 balai desa, 1 TK, 1 TPQ, dan 1 SD. Di sektor pertanian, sekitar 200 hektare lahan di Desa Glundengan, Kecamatan Wuluhan, tergenang air, dengan estimasi 14 hektare mengalami gagal panen (puso) pada tanaman padi usia 30–40 hari setelah tanam. Selain itu, 12 unit speedboat milik nelayan di Kecamatan Puger terseret arus sungai, meskipun baru 2 unit yang berhasil ditemukan kembali.

Korban Jiwa dan Pengungsian

Satu korban meninggal dunia tercatat, yaitu Siti (55 tahun), warga Dusun Curah Suko, Desa Kaliwining, Kecamatan Rambipuji. Korban tersengat aliran listrik saat membersihkan rumah yang terdampak banjir. Sebanyak 557 jiwa sempat mengungsi di titik-titik aman seperti masjid, balai desa, dan sekolah, termasuk kelompok rentan yang terdiri dari 74 balita, 82 lansia, dan 4 penyandang disabilitas. Hingga akhir masa tanggap darurat, seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing setelah air surut total di seluruh wilayah terdampak.

Penanganan Darurat dan Upaya Pemulihan

BPBD Kabupaten Jember bersama tim gabungan dari TNI/Polri, Basarnas, PMI, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PDAM, pemerintah desa, relawan, dan masyarakat setempat segera melakukan penanganan darurat. Langkah-langkah yang diambil mencakup pemantauan lapangan, evakuasi warga, pembersihan lumpur dan material banjir, pendirian posko tanggap darurat serta dapur mandiri, distribusi logistik, dan penyaluran air bersih melalui tangki dan tandon. Posko utama didirikan di Masjid Jami’ Wasilatunnajah Curahmalang, Kecamatan Rambipuji, sementara operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) dilaksanakan hingga hari kelima untuk korban hanyut di wilayah rawan. Pemerintah daerah memprioritaskan penanganan di Kecamatan Rambipuji sebagai wilayah dengan dampak terluas.

Rekomendasi dan Imbauan ke Depan

Pascabencana, BPBD merekomendasikan percepatan normalisasi sungai serta perbaikan infrastruktur rusak oleh dinas teknis terkait guna mengurangi risiko banjir berulang. Pemerintah Kabupaten Jember juga mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan, termasuk longsor dan banjir ulang. Dengan koordinasi lintas sektor yang terus ditingkatkan serta partisipasi aktif masyarakat, diharapkan proses pemulihan sosial, ekonomi, dan lingkungan di wilayah terdampak dapat berjalan optimal dan kondisi masyarakat segera kembali normal.

Related Articles

Back to top button