Dukung SE Bupati Jember, Berbagai Elemen Masyarakat Kompak Galakkan Inovasi Pengelolaan Sampah

JEMBER, 12 Juni 2026 – Pemerintah Kabupaten Jember tengah menggencarkan gerakan “Jember Bersih” melalui pengelolaan sampah mandiri dari hulu ke hilir. Gerakan ini merupakan tindak lanjut nyata atas diterbitkannya Surat Edaran (SE) Bupati Jember Nomor 100.3.4.2/441/2026 tentang Pengelolaan Sampah Mandiri. Kebijakan tersebut mewajibkan seluruh perangkat daerah, instansi pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, pelaku usaha, hingga lingkungan rumah tangga untuk melakukan pengolahan sampah secara mandiri.
Langkah strategis ini diambil seiring dengan perubahan sistem di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Pakusari yang kini sudah tidak lagi menerapkan sistem open dumping. Dengan kebijakan baru tersebut, TPA Pakusari hanya menerima sampah kategori residu. Kondisi kedaruratan di hilir ini direspons cepat oleh berbagai dinas, kecamatan, sekolah, hingga organisasi kemasyarakatan di Jember melalui rangkaian aksi edukasi, pembentukan kader, dan pelatihan pemanfaatan limbah.
Edukasi Pemilahan Rumah Tangga dan Pelatihan Kompos di TPS3R Baratan
Sebagai garda utama edukasi lingkungan, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Jember melalui Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) Baratan menggelar Pelatihan Pembuatan Kompos dari Sampah Rumah Tangga pada akhir pekan awal Juni 2026.
Koordinator TPS3R Baratan, Nurul Hidayah, menjelaskan bahwa pelatihan gratis yang diikuti oleh 25 peserta via pendaftaran daring ini bertujuan meningkatkan kapasitas masyarakat dalam memisahkan sampah organik dan anorganik sejak dari rumah.
“Hal ini terjadi karena saat ini TPA Pakusari sudah tidak lagi menerapkan sistem open dumping. Oleh karena itu, sampah yang dapat diserahkan ke TPA hanyalah sampah residu,” ujar Nurul Hidayah.
Untuk memastikan keberhasilan program, TPS3R Baratan memberikan pendampingan intensif selama tiga bulan ke depan hingga para peserta berhasil memanen kompos hasil olahannya sendiri. Suci, seorang warga Kecamatan Arjasa, mengaku terbantu dengan pelatihan ini karena sebelumnya sempat bingung menyikapi aturan baru dalam SE Bupati mengenai tata cara pengolahan limbah harian.
Melihat antusiasme warga, Kepala DPRKPLH Kabupaten Jember, Jupriono, menegaskan bahwa program peningkatan kapasitas ini akan terus diperluas cakupannya. “Pelatihan seperti ini akan lebih sering diselenggarakan, tidak hanya di TPS3R Baratan, tetapi juga di berbagai wilayah lainnya,” kata Jupriono.
SMAN 5 Jember Perkuat Program Adiwiyata Menuju Tingkat ASEAN
Kebijakan pengelolaan sampah mandiri ini juga disoroti oleh sektor pendidikan. Tim Adiwiyata SMAN 5 Jember melakukan kunjungan belajar ke TPS3R Baratan di Kecamatan Patrang pada Selasa, 9 Juni 2026. Kunjungan ini merupakan bagian dari persiapan SMAN 5 Jember—yang telah menyandang predikat Adiwiyata Mandiri tingkat nasional—untuk bertransformasi menuju Eco ASEAN School (Adiwiyata tingkat ASEAN).
Para siswa dan guru dibekali materi prinsip 3R serta praktik langsung pembuatan kompos dan pengelolaan bank sampah oleh tim TPS3R Baratan. Anggota Tim Adiwiyata SMAN 5 Jember, Nurul Anjar Sari, terinspirasi untuk segera merintis bank sampah di sekolah serta menggerakkan pemilahan sampah di area kantin.
Kepala SMAN 5 Jember, Helmi, menyatakan komitmennya untuk terus memperkuat berbagai program lingkungan demi menyukseskan rencana peningkatan status internasional tersebut. Pihak sekolah dan TPS3R Baratan juga telah menyepakati komitmen monitoring bersama selama tiga bulan ke depan untuk memastikan program berjalan optimal.
Inovasi Sabun Cair Eco Enzym oleh Dinsos PPPA
Inovasi pemanfaatan sampah organik juga lahir dari Dinas Sosial, Pengendalian Penduduk dan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Jember. Pada Kamis (11/6/2026), Dinsos PPPA menggelar pelatihan pembuatan sabun cair dengan campuran eco enzym di Vihara Jagadnata Maytreya, Jalan Sultan Agung.
Kepala Bidang Pemberdayaan, Perlindungan Perempuan, dan Pengarusutamaan Gender Dinsos PPPA Jember, dr. Oktavia Wahyu Krisna Murti, M.M., memaparkan bahwa langkah ini merupakan cara praktis untuk mengurangi volume sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi keluarga. Sampah organik difermentasi menjadi eco enzym, yang kemudian dijadikan bahan campuran sabun pembersih cair rumah tangga.
Widi Putih, seorang peserta asal Rambipuji, menilai keterampilan baru ini sangat aplikatif karena bahan pendukungnya mudah didapatkan serta mampu menghemat pengeluaran belanja bulanan rumah tangga.
Kaliwates Jadi Kelurahan Percontohan, Jombang Bentuk Pasukan Pemilah
Di tingkat wilayah, penguatan budaya peduli lingkungan dilakukan melalui penguatan kelembagaan lokal. Di Kelurahan Kaliwates, Kecamatan Kaliwates, Staf Ahli Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik Kabupaten Jember, Harry Agustriono, menghadiri pertemuan Tim Penggerak PKK di Pendopo Kelurahan pada Kamis (11/6/2026) siang.
Dalam kesempatan itu, Harry memperlihatkan contoh tempat sampah pilah hasil rancangan pribadinya sebagai media edukasi langsung bagi pengurus RT/RW dan kader Posyandu. Ia mengingatkan status Kelurahan Kaliwates yang kini memegang amanah besar dari pemerintah daerah.
“Kelurahan Kaliwates telah mendapatkan kepercayaan sebagai percontohan pengelolaan sampah di tingkat kelurahan di Kabupaten Jember. Mari kita mulai dari hal sederhana, yaitu memilah sampah dari rumah masing-masing,” pungkas Harry.
Sementara itu, Pemerintah Kecamatan Jombang mengambil langkah taktis pasca-sosialisasi Gerakan “Pilah Pilih” pada Rabu (10/6/2026). Kamis (11/6/2026), Camat Jombang, Farisa Jamal Taslim, S.STP., M.M., mengonsolidasikan organisasi perempuan seperti PKK, Bhayangkari, dan Persit Kartika Chandra Kirana sebagai “pasukan pemilah sampah” di garda terdepan.
Kecamatan Jombang menggandeng organisasi Sajjadah dan menghadirkan Ketua Bank Sampah Induk Karya Mandiri Kabupaten Jember, Ahmad Sugiarto (Cak Mad Sampah), untuk memberikan pembekalan teknis serta regulasi.
“Masalah kedaruratan sampah di hilir hanya bisa diurai jika kita bergerak bersama di hulu. Kami ingin memastikan seluruh elemen organisasi di Jombang memiliki pemahaman yang sama dan segera bergerak melakukan aksi nyata,” tegas Farisa.
Melalui kolaborasi masif yang melibatkan instansi vertikal, lembaga pendidikan, hingga organisasi perempuan ini, Pemerintah Kabupaten Jember optimistis dapat mengubah perilaku masyarakat dalam memperlakukan sampah, sekaligus menciptakan lingkungan yang bersih, sehat, dan memiliki nilai ekonomi berkelanjutan.



