Sinergi Pemkab Jember dan Masyarakat: Perkuat Pengelolaan Sampah Berbasis Rumah Tangga Melalui Ekonomi Sirkular dan Bank Sampah

JEMBER, 8 Mei 2026 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan berbagai elemen masyarakat memperkuat langkah kolaboratif dalam mengatasi persoalan limbah domestik. Melalui serangkaian edukasi, sosialisasi, hingga aksi nyata di tingkat rukun warga (RW) dan kelurahan yang berlangsung sepanjang pekan pertama Mei 2026, pemerintah mendorong perubahan paradigma pengelolaan sampah. Sampah tidak lagi dipandang sekadar limbah buangan, melainkan sumber daya bernilai guna dan ekonomi melalui penerapan prinsip ekonomi sirkular, konsep 3R (Reduce, Reuse, Recycle), serta optimalisasi fungsi Bank Sampah.
Perubahan Paradigma dan Kolaborasi Lintas Sektor
Komitmen penguatan kapasitas masyarakat ini salah satunya tercermin dalam kegiatan “Sosialisasi Pengurangan Sampah dan Pembinaan Kelompok Masyarakat” yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup bersama Badan Pengendalian Lingkungan Hidup di Hotel Aston Jember, Kamis (07/05/2026). Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Kabupaten Jember yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebersihan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup, Neni Suharno Putri, S.T., hadir memberikan dukungan penuh terhadap upaya ramah lingkungan tersebut.
Dalam forum tersebut, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, Ayu Wulandari Saraswati, S.T., menegaskan bahwa penanganan sampah memerlukan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat. Paradigma baru berbasis ekonomi sirkular dinilai penting agar sampah dapat diolah kembali menjadi sumber daya yang bernilai ekonomi.
Ketua DPRD Jember, Ahmad Halim, S.Sos., yang membuka acara secara resmi, turut mengajak masyarakat untuk membangun kedisiplinan sejak dari lingkup keluarga. “Kalau kita ingin bumi ini tetap layak dihuni oleh anak cucu kita, maka kita harus mulai dari diri kita sendiri. Mari tertib membuang sampah dengan baik dan biasakan memilah antara sampah organik dan anorganik,” ujarnya. Hal senada juga ditekankan oleh Anggota DPR RI, Bambang Haryadi, S.E., pada sesi penutupan, yang menyoroti pentingnya kolaborasi berkesinambungan antara pemerintah, kelompok masyarakat, dan komunitas lingkungan demi terciptanya budaya hidup bersih yang konsisten.
Implementasi Nyata Gerakan “KUPILAH” di Sumbersari
Perubahan paradigma di tingkat kebijakan selaras dengan tumbuhnya kesadaran di akar rumput. Di Kelurahan Sumbersari, warga RW 25 menunjukkan peran aktifnya melalui gerakan “KUPILAH” (Kurangi, Pilah, Olah) yang digelar pada pekan yang sama. Melalui pendekatan edukasi visual dan video pembelajaran, warga dibiasakan untuk mengurangi barang sekali pakai, memanfaatkan barang layak guna, serta mengolah sampah organik menjadi kompos.
Untuk limbah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan minyak jelantah, warga menyetorkannya ke Bank Sampah Griya Ayu RW 25 guna dikelola lebih lanjut, sementara sampah residu tetap diangkut petugas ke tempat pemrosesan akhir. Lurah Sumbersari, Bhatara Pragusta, memberikan apresiasi atas inisiatif mandiri tersebut. Menurutnya, langkah sederhana memilah sampah dari rumah tidak hanya menekan volume penumpukan limbah, tetapi juga menghadirkan manfaat finansial melalui bank sampah. Ia menilai keberhasilan ini sangat bergantung pada sinergi bersama antara warga, pengurus RT/RW, dan kelurahan.
Inovasi Daur Ulang dan Penguatan Peran TP PKK
Gerakan berbasis masyarakat juga diperkuat melalui sektor pemberdayaan perempuan. Tepat pada Kamis (07/05/2026), Kelurahan Baratan menjadi tuan rumah Pertemuan Rutin Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Kecamatan Patrang yang bertempat di Pendopo Kelurahan Baratan. Pertemuan ini difokuskan pada edukasi daur ulang limbah domestik serta target pembentukan minimal satu unit bank sampah aktif di setiap kelurahan.
Para kader PKK diedukasi bahwa limbah nonorganik—seperti botol kaca, plastik kresek, sepatu bekas, hingga limbah logam dan kaleng bekas—memiliki nilai ekonomis jika dikonversi menjadi produk kerajinan kreatif. Salah satu inovasi utama yang menjadi sorotan adalah praktik pengolahan minyak jelantah (minyak goreng bekas) menjadi lilin bernilai guna. Langkah ini dinilai efektif mencegah pencemaran limbah cair di lingkungan sekaligus membuka peluang usaha baru.
Sekretaris Kelurahan Baratan, Denny Wijiyati, S.AP., mengapresiasi inisiatif TP PKK yang dinilainya mampu mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah agar memiliki nilai ekonomi produktif bagi keluarga. Semangat serupa juga disampaikan oleh Ketua TP PKK Kelurahan Bintoro, Waqi’ah, yang siap menyosialisasikan ilmu pengelolaan bank sampah dan inovasi lilin jelantah tersebut kepada para kader dan kelompok Dasawisma di wilayahnya. Dukungan penuh pun diberikan oleh Lurah Bintoro, Pairi, S.T., M.Si., yang berharap program ini mampu mendorong kebersihan lingkungan sekaligus mendongkrak kesejahteraan melalui ekonomi kreatif.
Secara keseluruhan, rangkaian sinergi lintas wilayah dan sektor di Kabupaten Jember ini bermuara pada satu tujuan utama: meningkatkan kesadaran memilah sampah dari rumah guna mewujudkan lingkungan yang bersih, sehat, dan berkelanjutan, sekaligus memberikan dampak peningkatan ekonomi yang nyata bagi masyarakat.



