Semarak Hari Kartini di Pemkab Jember: Dari Balutan Kebaya dan Batik hingga Aksi Nyata Peduli Lingkungan

JEMBER, 22 April 2026 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember memiliki cara unik dan penuh makna dalam memperingati Hari Kartini yang jatuh pada Selasa (21/4/2026). Wujud penghormatan terhadap pahlawan emansipasi perempuan, Raden Ajeng Kartini, tidak hanya sekadar dirayakan melalui seremoni formal, melainkan diimplementasikan oleh seluruh jajaran Aparatur Sipil Negara (ASN) melalui penggunaan pakaian tradisional serta aksi nyata gotong royong membersihkan lingkungan.

Berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan instansi kecamatan di Kabupaten Jember menunjukkan antusiasme yang tinggi dalam menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan Kartini. Menariknya, seluruh rangkaian peringatan dan perayaan bernuansa budaya ini dilakukan dengan tetap menjaga optimalitas pelayanan publik kepada masyarakat.

Instruksi Resmi dan Nuansa Budaya di Lingkungan Kerja

Langkah serentak dalam mengenakan busana tradisional ini didasari oleh Surat Edaran (SE) Bupati Jember Nomor 400.2.2.2/291/35.09.1.31/2026. SE tersebut menginstruksikan seluruh pegawai, baik ASN maupun tenaga non-ASN di lingkungan Pemkab Jember, untuk mengenakan kebaya bagi perempuan dan batik bagi laki-laki.

Instruksi ini tampak dijalankan dengan kompak di Bagian Umum, Protokol, dan Komunikasi Pimpinan Sekretariat Daerah Kabupaten Jember, serta di Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, dan Perdagangan (DisKopUKMDag). Kepala DisKopUKMDag, Dra. Sartini, M.M., menegaskan bahwa peringatan dengan nuansa budaya ini menjadi momentum untuk menumbuhkan kembali semangat perempuan dalam berkontribusi membangun negeri menuju “Jember Baru Jember Maju”.

Meskipun berbalut busana tradisional yang anggun, Pranata Humas Ahli Muda Setda Jember, Dian Dwi Wahyuni, S.Sos., memastikan bahwa seluruh pegawai tetap menjalankan tugas dan kewajiban pelayanannya kepada masyarakat tanpa kendala sedikit pun. Hal ini justru dinilai mampu menumbuhkan rasa kebanggaan dan nasionalisme bagi abdi negara.

Implementasi Nilai Perjuangan dan Dukungan Produk Lokal

Semangat serupa juga terlihat nyata di Kecamatan Patrang. Berdasarkan arahan Camat Patrang, Ajib, S.I.P., seluruh pegawai secara serentak mengenakan pakaian batik. Langkah ini dinilai memiliki makna ganda. Selain untuk menghidupkan nilai-nilai ketekunan, keberanian, dan semangat maju Kartini dalam pelayanan publik, penggunaan batik juga menjadi bentuk nyata pelestarian budaya bangsa. Lebih jauh, inisiatif ini sekaligus menjadi wujud dukungan nyata pemerintah kecamatan terhadap para pelaku usaha batik lokal agar terus berkembang di tengah arus modernisasi.

Wujudkan Semangat Lewat Aksi Nyata Gotong Royong

Selain melalui simbol pakaian yang sarat makna, nilai luhur kebersamaan R.A. Kartini turut diaktualisasikan melalui kegiatan kurve atau kerja bakti kebersihan lingkungan. Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinsos PPPA) Kabupaten Jember menginisiasi aksi bersih-bersih di kawasan Jalan Kalimantan. Sekretaris Dinsos PPPA, Sri Rahayu Wilujeng, S.E., M.M., menyatakan bahwa semangat Kartini di era modern harus dimaknai secara luas, salah satunya diwujudkan melalui kontribusi aktif menjaga lingkungan yang secara simultan mempererat kekompakan antarpegawai.

Pemandangan yang tak kalah unik dan inspiratif tersaji di Kecamatan Kaliwates. Para ASN di wilayah tersebut melaksanakan kegiatan korve membersihkan area lingkungan kantor kecamatan dengan cara yang istimewa, yakni dengan tetap mengenakan kebaya dan batik. Kasi PMKS Kecamatan Kaliwates, Lolita Tyas Malina, S.H., menuturkan bahwa inisiatif ini membuktikan bahwa semangat Kartini dapat dikemas secara kreatif ke dalam kegiatan nyata tanpa mengurangi makna utamanya, yaitu menghargai peran perempuan sekaligus mencintai budaya Indonesia.

Melalui ragam kegiatan yang inspiratif tersebut, peringatan Hari Kartini tahun 2026 di lingkungan Pemerintah Kabupaten Jember membuktikan bahwa nilai-nilai perjuangan emansipasi tetap hidup dan relevan. Momentum ini diharapkan tidak sekadar menjadi agenda tahunan semata, melainkan menjadi pendorong bagi seluruh aparatur pemerintah untuk terus memperkuat kesetaraan gender, menjaga warisan budaya lokal, serta menghadirkan pelayanan publik yang semakin inklusif, berkeadilan, dan berkualitas.

Related Articles

Back to top button