Pelestarian Budaya di Jember, Menjaga Warisan Leluhur di Tengah Arus Modernisasi

JEMBER, 2 April 2026 – Kabupaten Jember terus menunjukkan komitmen nyata dalam melestarikan kekayaan budaya lokal. Melalui serangkaian kegiatan seni tradisional yang digelar pada akhir Maret 2026, pemerintah daerah bersama seniman dan masyarakat berhasil menghidupkan kembali nilai-nilai luhur warisan leluhur. Dari pertunjukan wayang kulit di Wuluhan, Pojok Budaya di Rembangan, hingga Kompolan Tokang Kejhung di Jubung, semangat pelestarian budaya menjadi nadi yang terus berdenyut kuat di tengah tantangan modernisasi.
Kegiatan-kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan semata, melainkan wujud nyata upaya estafet generasi dan penguatan identitas lokal. Dengan melibatkan dalang muda hingga tokoh sepuh, seniman lokal, serta masyarakat luas, Jember membuktikan bahwa budaya tradisional tetap relevan dan mampu berdampingan dengan perkembangan zaman.
Estafet Generasi Wayang Kulit di Wuluhan
Di Kecamatan Wuluhan, pelestarian wayang kulit mencapai puncaknya melalui pertunjukan yang digelar pada momentum Ramadan lalu di Pendopo Kecamatan. Bagi masyarakat setempat, menjaga eksistensi wayang bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan ikhtiar mendalam untuk memastikan nilai-nilai luhur “nguri-nguri” budaya tetap hidup bagi generasi mendatang.
Strategi pelestarian dilakukan secara terukur melalui pembagian panggung yang inklusif. Sesi siang hari khusus didedikasikan bagi dalang muda sebagai ruang latihan langsung di hadapan publik, sementara sesi malam hari dimeriahkan dalang-dalang sepuh, termasuk Ki Junawan Prabowo. Tokoh ikonik ini menegaskan bahwa keberlanjutan tradisi bergantung pada pemahaman masyarakat terhadap esensi wayang kulit.
“Wayang kulit bukan sekadar hiburan visual, melainkan sebuah kesatuan antara tontonan, tuntunan, sekaligus tatanan tradisional,” terang Ki Junawan Prabowo. Melalui pertunjukan berkala, pesan-pesan moral dalam setiap lakon diharapkan meresap ke sanubari generasi muda, sehingga identitas lokal tetap kokoh meski digempur tren global.
Dampak kegiatan ini terasa hingga pasca-acara. Selain menjadi pengingat akar budaya Jawa, pertunjukan wayang kulit turut mempererat silaturahmi antarwarga dan menggerakkan ekonomi lokal secara organik. Pemerintah Kecamatan Wuluhan menyatakan program ini akan terus berlanjut secara berkesinambungan, dengan sinergi seniman lintas generasi dan dukungan masyarakat penuh.
Pojok Budaya Rembangan: Wadah Ekspresi Seni Lokal di Kawasan Wisata
Sementara itu, di kawasan wisata Puncak Rembangan, tepatnya di Darungan, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Pojok Budaya sukses digelar pada Sabtu, 28 Maret 2026. Acara ini menghadirkan ragam kesenian tradisional khas Jember, seperti tari Dadak Merak, tari Bujang Ganong, atraksi Can Macanan Kadduk, serta musik patrol Jemberan.
Kegiatan yang berlangsung sejak siang hingga sore hari tersebut menjadi magnet bagi wisatawan dan masyarakat setempat. Penampilan para seniman lokal yang penuh energi menciptakan suasana hidup dan penuh semangat kebudayaan di tengah pegunungan yang sejuk.
Kepala Bidang Kebudayaan, Agung Nugroho, S.Sos., menyampaikan bahwa Pojok Budaya bukan sekadar hiburan, melainkan wadah strategis bagi pelaku seni lokal untuk terus berkarya dan melestarikan budaya daerah.
“Pojok Budaya ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi wadah strategis bagi para pelaku seni lokal untuk terus berkarya dan melestarikan budaya daerah. Kami ingin memastikan bahwa kesenian tradisional tetap hidup dan dicintai oleh generasi muda,” ujarnya. Kolaborasi antara sektor pariwisata dan kebudayaan menjadi kunci, sehingga pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga mendapatkan pengalaman budaya yang berkesan.
Kompolan Tokang Kejhung di Jubung: Menghidupkan Sastra Lisan Madura
Di Jubung, Kecamatan Sukorambi, semangat pelestarian budaya lokal kembali digaungkan melalui Kompolan Tokang Kejhung pada Sabtu, 29 Maret 2026 pukul 19.00 WIB. Kegiatan ini menjadi ruang ekspresi sekaligus penguatan keberlangsungan sastra lisan masyarakat Madura bernama kejhung.
Sebagai bentuk kesenian tradisional yang memuat nilai-nilai kehidupan, pesan moral, serta identitas budaya, kejhung diwariskan secara turun-temurun. Di tengah arus modernisasi, kegiatan kompolan ini membuktikan bahwa pelestarian dapat dilakukan secara sederhana namun bermakna, dengan melibatkan tokang kejhung, pegiat budaya, dan masyarakat secara aktif.
Kepala Bidang Kebudayaan, Agung Nugroho, kembali menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya acara tersebut. “Kejhung adalah warisan budaya yang memiliki nilai tinggi dan harus terus kita jaga bersama. Melalui kegiatan kompolan ini, kami ingin menumbuhkan kembali kecintaan masyarakat terhadap budaya lokal, sekaligus mendorong kejhung agar berkembang dalam berbagai ruang kehidupan,” katanya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pintu gerbang bagi pengembangan kejhung ke ruang publik yang lebih luas dan integrasi dalam program kebudayaan daerah.



