Bunga Desaku Ke-7 di Kencong: Kesederhanaan, Kedekatan, dan Semangat Gotong Royong Jadi Warna Utama

Kencong, 24 November 2025 – Program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan) edisi ke-7 yang berlangsung dua hari satu malam di Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember, pada 21–22 November 2025, tidak hanya dikenang karena jumlah kegiatannya yang padat, tetapi terutama karena nuansa kesederhanaan, kedekatan emosional, dan semangat kebersamaan yang begitu kental terasa di setiap sudut acara.

Rapat Koordinasi Lesehan di Tenda: Tanpa AC, Tanpa Jarak

Malam Jumat (21/11) pukul 21.45 WIB, ketika sebagian besar orang sudah berada di rumah masing-masing, Bupati Jember H. Muhammad Fawait, S.E., M.Sc., bersama puluhan Kepala OPD dan para camat se-Kabupaten Jember justru menggelar rapat koordinasi di bawah tenda darurat di halaman Dira Kencong. Duduk lesehan di atas tikar, tanpa AC dan tanpa protokol berlebihan, mereka membahas evaluasi pembangunan, belanja anggaran, promosi wisata, hingga penanganan warga terlantar.

“OPD jangan enggan studi banding asal untuk mendukung program Jember baru Jember maju. Jangan bosan untuk mempromosikan potensi wisata Jember terutama di medsos. Perhatikan betul masyarakat di wilayahnya, jangan ada lagi warga terlantar. Ikuti aturan dan jangan ragu untuk belanja anggaran, kita harus berani maju.” tegas Gus Fawait di hadapan para pejabat yang duduk bersila.

Camat Sumberjambe, Djoni Nurtjahjono, SH, M.Si., yang turut hadir, secara terbuka “mengangkat topi”. Menurutnya, rapat lesehan di tenda sederhana itu menjadi bukti nyata bahwa kepemimpinan Jember saat ini benar-benar ingin dekat dengan rakyat dan fokus pada hasil, bukan seremoni.

“Bupati Tetangga Desa”: RT/RW dan Perangkat Desa Datang Lebih Ramai dari Perkiraan

Keesokan harinya, gedung pertemuan Dira Kencong dipenuhi ratusan RT/RW, anggota BPD, kepala desa, dan perangkat desa se-Kecamatan Kencong. Banyak yang datang lebih awal karena satu alasan sederhana: “Bupati kita ini tetangga desa sendiri.”

Gus Fawait memang lahir dan besar di Desa Wringin Agung, Kecamatan Jombang—yang secara geografis bersebelahan dengan beberapa desa di Kencong. Kedekatan emosional ini membuat forum terasa seperti pertemuan keluarga besar. Aspirasi mengalir deras: mulai dari perbaikan infrastruktur desa, pelatihan pengelolaan DD, hingga permintaan pendampingan promosi wisata desa lewat media sosial.

“Saya ingin RT/RW, BPD, kepala desa, dan perangkat desa menjadi penggerak utama pembangunan. Kedekatan kita sebagai sesama warga desa harus menjadi semangat untuk membangun Jember lebih maju,” pesan Gus Fawait sambil menegaskan perlunya kolaborasi lintas desa agar pertumbuhan ekonomi bisa menyebar lebih merata.

Tidur di Tenda, Makan Bersama, dan Ngantor Sungguhan di Desa

Sepanjang dua hari satu malam, Bupati dan sebagian besar rombongan OPD benar-benar “ngantor” di Kencong: tidur di tenda darurat, makan bersama warga, serta mengikuti seluruh rangkaian kegiatan mulai dari pertemuan pengajian, UMKM, kader posyandu, hingga jalan sehat kampung bersama lebih dari 10.000 warga.

Kesederhanaan yang ditunjukkan—rapat lesehan, tidur di tenda, dan dialog tanpa sekat—membuat masyarakat merasa “didengar sungguhan”. Para perangkat desa mengaku pulang dengan semangat baru, sementara para camat dan OPD semakin solid dalam menjalankan arahan bupati.

Bunga Desaku Bukan Sekadar Program, Tapi Gerakan Kembali ke Akar

Bunga Desaku ke-7 di Kencong berhasil membuktikan bahwa pemerintahan yang kuat tidak diukur dari megahnya gedung kantor, melainkan dari seberapa dekat pemimpinnya dengan denyut kehidupan rakyat—duduk lesehan di tikar, mendengar langsung suara RT/RW, dan tidur semalam suntuk di tenda desa.

Dengan semangat “Jember Baru, Jember Maju” yang terus digaungkan dalam kesederhanaan, program ini semakin mengukuhkan diri bukan sekadar kunjungan kerja, melainkan gerakan kolektif untuk membangun kabupaten dari akar rumput, bersama-sama, tanpa jarak.

Related Articles

Back to top button