Langkah Jember Berantas TBC: Dari Skrining Jemput Bola hingga Penguatan Kapasitas Kader Masyarakat

JEMBER, 22 Juni 2026 – Keseriusan dalam menekan angka dan mengeliminasi kasus Tuberkulosis (TBC) terus dibuktikan oleh berbagai elemen pemerintahan dan fasilitas kesehatan di Kabupaten Jember. Sepanjang Juni 2026, langkah masif dan terpadu digencarkan di berbagai kecamatan melalui program Active Case Finding (ACF) proaktif dengan teknologi Portable X-Ray, penyediaan layanan kesehatan gratis, hingga edukasi lintas sektor guna memperkuat kapasitas masyarakat.

Pendekatan menyeluruh ini bertujuan untuk mendeteksi kasus sedini mungkin, memutus rantai penularan, sekaligus menghapus stigma terhadap penderita TBC di tengah masyarakat.

Jemput Bola dengan Teknologi Portable X-Ray

Sebagai upaya mendekatkan layanan kesehatan, metode jemput bola melalui Active Case Finding (ACF) TBC secara gencar dilakukan di tingkat kecamatan hingga desa. Di Kecamatan Sukowono, kolaborasi pemerintah kecamatan dan puskesmas setempat menghadirkan layanan ACF di Aula Nusantara pada Kamis, 18 Juni 2026. Kegiatan ini merupakan pelaksanaan kedua kalinya pada tahun ini dari target tiga kali dalam setahun.

Koordinator Program TB Puskesmas Sukowono, Watik Handayani, menjelaskan bahwa ACF bertujuan menegakkan diagnosis bagi terduga TBC melalui pemeriksaan rontgen dada dengan mobile X-Ray dan Tes Cepat Molekuler (TCM). Senada dengan hal tersebut, Camat Sukowono, H. Jono Wasinudin, sangat mengapresiasi sinergi ini dan berharap masyarakat dapat memaksimalkan layanan gratis tersebut untuk deteksi dini.

Pendekatan serupa juga dilaksanakan di Balai Desa Biting, Kecamatan Arjasa, pada Senin, 22 Juni 2026. Sasaran utamanya adalah kelompok berisiko tinggi, seperti penderita diabetes melitus, HIV, malnutrisi, pasien dengan batuk berkepanjangan, sesak napas, hingga individu yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.

Koordinator Lapangan ACF dari STPI Pusat Jakarta, Faisol, menegaskan bahwa strategi jemput bola sangat vital untuk menjangkau wilayah-wilayah yang sulit. “Kedepannya kami berharap masyarakat semakin mau datang memeriksakan diri. Kami berusaha mendekatkan layanan kepada masyarakat di berbagai wilayah, terutama yang sulit dijangkau,” ujarnya.

Tindak Lanjut Medis

Tingginya antusiasme skrining tentu diiringi dengan kesiapan penanganan medis. Penanggung Jawab Program TBC Dinkes PPKB Kabupaten Jember, Darmawan Eka Pradana, S.KM, merinci bahwa setiap temuan terduga TBC dari kegiatan ACF akan langsung mendapatkan tatalaksana standar.

Pemeriksaan mencakup rontgen, tes dahak dengan TCM, dan pemeriksaan klinis. Jika terdiagnosis positif TBC, pasien akan segera diberikan pengobatan standar. “Jika mereka kontak serumah penderita TBC dan bukan sakit TBC, maka dari hasil tersebut langsung diberikan TPT (Terapi Pencegahan TBC),” jelas Darmawan.

Kemudahan akses ini dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat. Salah satu warga Desa Biting, Eva Sofiatul Karimah, mengungkapkan rasa syukurnya atas kehadiran layanan gratis di desanya. Menurutnya, layanan yang dekat dengan tempat tinggal membuatnya tidak perlu repot mengantre panjang di rumah sakit maupun khawatir memikirkan biaya pemeriksaan.

Sinergi Edukasi dan Penghapusan Stigma di Wilayah Rentan

Selain penemuan kasus aktif, aspek pencegahan melalui edukasi juga menjadi prioritas. Pada 22 Juni 2026, Pemerintah Kelurahan Bintoro bersama Puskesmas Banjarsengon menggelar sosialisasi penekanan kasus TB di Pendopo Kelurahan Bintoro. Wilayah ini menjadi fokus utama karena tercatat memiliki persentase kasus TB tertinggi di Kecamatan Patrang.

Berbeda dengan sasaran pasien, sosialisasi ini secara khusus ditujukan bagi kader Posyandu Banjarsengon dan para tokoh masyarakat. Tujuannya adalah membekali mereka dengan pengetahuan tentang pencegahan TB, pentingnya deteksi dini, perbaikan sirkulasi udara, hingga strategi menghapus stigma negatif terhadap penderita TBC.

Lurah Bintoro, Pairi, S.T., M.Si., menyatakan komitmen penuhnya dalam memfasilitasi setiap upaya nyata untuk menekan kasus menular di wilayahnya. “Saat ini Bintoro menghadapi tantangan besar karena memiliki persentase kasus TB tertinggi di Kecamatan Patrang. Oleh karena itu, kehadiran para kader posyandu dan kegiatan edukasi seperti ini sangat penting untuk memperkuat upaya pencegahan di masyarakat,” tegas Pairi.

Kegiatan edukatif ini turut diperkuat oleh kehadiran unsur Tiga Pilar, yakni Babinsa dan Bhabinkamtibmas, yang berbaur dengan warga sebagai wujud sinergi pengamanan dan dukungan program kesehatan. Apresiasi juga disampaikan oleh Kasi Pemerintahan dan Pelayanan Umum Kelurahan Bintoro, Suhendra Darmawan, S.E. Ia berharap para kader posyandu, sebagai garda terdepan informasi kesehatan, dapat meneruskan ilmu yang diperoleh langsung kepada masyarakat sekitar.

Upaya berkelanjutan di Kabupaten Jember membuktikan bahwa penanganan TBC tidak dapat berjalan sendiri. Melalui kolaborasi lintas sektor—mulai dari penyediaan teknologi skrining praktis, penanganan medis yang cepat dan tepat, hingga penguatan edukasi oleh kader desa dan Tiga Pilar—rantai penularan Tuberkulosis di Jember diharapkan dapat diputus secara efektif demi mewujudkan masyarakat yang sehat dan produktif.

Related Articles

Back to top button