Kunjungan Tim National Nutrition Review ke RSD Balung: Upaya Bersama Mengatasi Stunting di Jember

Jember, 27 Mei 2025 – Pada hari Sabtu, 24 Mei 2025, Rumah Sakit Daerah (RSD) Balung menerima kunjungan penting dari Tim National Nutrition Review yang dipimpin oleh Prof. Endang Laksminingsih dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (UI), bersama dengan perwakilan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Jember. Kunjungan ini merupakan bagian dari kegiatan Focus Group Discussion (FGD) yang membahas permasalahan stunting di wilayah Kabupaten Jember.
Direktur RSD Balung, dr. Nurullah Hidajahningtyas, MM, turut hadir bersama tim inovasi “Cinta Anting Emas” (Civitas Nakes Tanggap Atasi Stunting dengan Edukasi dan Pemberdayaan Masyarakat) yang merupakan inisiatif rumah sakit dalam menangani isu gizi buruk, khususnya stunting, melalui edukasi dan pemberdayaan masyarakat.
Indonesia telah menunjukkan komitmen yang kuat dalam mengatasi masalah gizi buruk pada ibu dan anak selama dekade terakhir. Terbukti dengan penurunan signifikan dalam berbagai bentuk malnutrisi. Namun, tantangan utama masih ada, terutama terkait pola makan yang kurang optimal dan praktik pemberian makan yang tidak memadai, serta keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan dan gizi.
Data menunjukkan bahwa tiga dari sepuluh bayi di bawah usia enam bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif, sementara dua dari lima anak di bawah lima tahun tidak menerima kelompok makanan yang direkomendasikan. Hanya sekitar 40 persen anak yang mendapatkan asupan gizi minimal yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan optimal. Kondisi ini diperparah oleh asupan gizi ibu yang buruk selama kehamilan dan tingginya angka infeksi, yang menyebabkan sekitar 6 persen bayi lahir dengan berat badan rendah.
Faktor-faktor sosial ekonomi seperti kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan, ketimpangan gender dan sosial, serta kondisi lingkungan yang kurang mendukung seperti infrastruktur yang tidak memadai dan seringnya bencana alam, turut memperburuk masalah gizi ini.
Stunting merupakan bentuk gizi buruk yang paling umum terjadi di Indonesia. Anak yang mengalami stunting berisiko tinggi mengalami gangguan perkembangan kognitif, penyakit kronis di masa dewasa, serta melahirkan bayi dengan berat badan rendah. Secara fisik, anak stunting memiliki tinggi badan yang lebih pendek dibandingkan anak seusianya.
Selain stunting, wasting atau kondisi anak yang sangat kurus juga menjadi masalah serius. Indonesia termasuk negara dengan angka wasting tertinggi di dunia, dengan sekitar 4,5 juta balita mengalami wasting, dan lebih dari 460.000 di antaranya dalam kondisi parah. Anak dengan wasting memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi dibandingkan anak dengan status gizi baik. Jika tidak ditangani dengan tepat, anak wasting berisiko tiga kali lebih besar mengalami stunting, dan anak stunting berisiko 1,5 kali lebih besar mengalami wasting. Risiko kematian meningkat secara signifikan jika kedua kondisi ini terjadi bersamaan.
Dalam FGD tersebut, berbagai langkah strategis untuk mengatasi wasting dan stunting dibahas, antara lain:
- Pemberian ASI Eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia dua tahun.
- Pemberian Makanan Bergizi Seimbang sesuai dengan usia anak.
- Pelaksanaan Imunisasi Dasar dan Pemberian Vitamin A secara rutin.
- Pemantauan Kesehatan Anak di Posyandu dan segera mendapatkan layanan kesehatan jika anak sakit.
- Penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dalam keluarga dan masyarakat.
Kunjungan Tim National Nutrition Review ke RSD Balung ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara institusi kesehatan, akademisi, dan pemerintah daerah dalam mengatasi masalah gizi dan stunting. Melalui edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan peningkatan layanan kesehatan, diharapkan angka stunting dan wasting di Kabupaten Jember dapat terus menurun, sehingga generasi masa depan dapat tumbuh sehat dan produktif.



