Sinergi TP3S Ajung: Refleksi Kinerja dan Persiapan Monev Kabupaten untuk Keluarga Bebas Stunting

Jember, 2 November 2025 – Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, menunjukkan komitmen kuat dalam upaya percepatan penurunan stunting melalui dua kegiatan strategis pada Oktober 2025. Refleksi Kinerja Terpadu Tahun 2025 dan Operasional Konseling Satyagatra menjadi wadah evaluasi, berbagi pengalaman, serta penguatan koordinasi antarinstansi dan masyarakat untuk mendukung Tim Pendamping Program Percepatan Penurunan Stunting (TPPPS), Tim Pendamping Keluarga (TPK), dan Tim Pendamping Pencegahan dan Penanganan Stunting (TP3S). Kegiatan ini melibatkan camat, kepala desa, kader PKK, tenaga kesehatan, serta lembaga keagamaan, dengan tujuan utama mencapai keluarga berketahanan dan bebas stunting.

Refleksi Kinerja Terpadu: Evaluasi Capaian dan Penguatan Komitmen

Pada 24 Oktober 2025, Aula Kantor Kecamatan Ajung menjadi lokasi Giat Refleksi Kinerja Terpadu Tahun 2025 yang berlangsung mulai pukul 14.00 WIB. Kegiatan ini dihadiri oleh Camat Ajung beserta staf, Sekretaris Camat, Kepala Seksi PMKS, perwakilan KUA Ajung, tim DP3AKB Kecamatan Ajung, bidan desa, serta ahli gizi dari Puskesmas Ajung.

Camat Ajung dalam sambutannya menekankan refleksi sebagai sarana menilai capaian program sekaligus memperkuat komitmen. “Refleksi kinerja bukan sekadar melihat apa yang telah kita lakukan, tetapi juga menata langkah strategis untuk meningkatkan efektivitas program yang menyentuh langsung masyarakat. Kolaborasi antara TPPPS dan TPK adalah kunci utama dalam mempercepat penurunan angka stunting dan peningkatan kesejahteraan keluarga di wilayah Ajung,” ujarnya.

Sekretaris Camat menambahkan bahwa forum ini memfasilitasi berbagi kendala dan praktik baik antar-desa. Diskusi lintas sektor mencakup laporan dari Kasi PMKS tentang pemberdayaan perempuan dan kapasitas kader, serta peran KUA dalam edukasi pranikah dan keluarga sakinah. “Keluarga yang harmonis dan memiliki pengetahuan dasar tentang kesehatan reproduksi menjadi fondasi penting dalam mencegah stunting sejak dini,” kata perwakilan KUA.

Bidan desa dan ahli gizi Puskesmas Ajung memaparkan pendampingan keluarga berisiko, pemeriksaan ibu hamil, pemantauan balita, serta intervensi gizi berbasis komunitas. Ahli gizi menyoroti pendekatan gizi sensitif yang melibatkan sektor lain untuk akses pangan bergizi, air bersih, dan sanitasi. “Pendampingan gizi tidak cukup hanya dengan memberikan edukasi. Kita perlu memastikan akses pangan bergizi, sanitasi yang memadai, serta dukungan keluarga agar perubahan perilaku benar-benar terjadi,” tuturnya.

Data kinerja 2025 menunjukkan capaian positif seperti peningkatan kesadaran 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), kunjungan posyandu, dan penurunan risiko stunting di beberapa desa. Namun, tantangan seperti keterbatasan kader, akses informasi digital, dan koordinasi antarinstansi masih ada. Peserta sepakat memperkuat koordinasi, memperluas pendampingan, serta meningkatkan pelatihan kader. DP3AKB menegaskan dukungan teknis, dengan pernyataan bahwa “kunci keberhasilan program percepatan penurunan stunting terletak pada keterlibatan semua pihak, dari pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga agama, hingga masyarakat sendiri.”

Operasional Konseling Satyagatra: Persiapan Monev TP3S Kabupaten

Enam hari kemudian, pada 30 Oktober 2025, Balai Penyuluh KB Kecamatan Ajung menggelar Operasional Konseling Satyagatra mulai pukul 09.00 WIB. Peserta mencakup Camat Ajung, Kasi PMKS, DP3AKB, Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan, Ketua TP PKK Desa, perwakilan Puskesmas dan KUA, kepala desa, Ketua TP3S Desa, operator desa, serta kader Posyandu dan Sub IMP.

Camat Ajung menyatakan kegiatan ini sebagai sinergi nyata untuk ketahanan keluarga melalui tujuh dimensi Satyagatra. “Kegiatan hari ini bukan hanya sekadar koordinasi, tapi bentuk nyata dari sinergi antarinstansi dan masyarakat dalam menjaga ketahanan keluarga di wilayah Ajung. Dengan semangat kolaborasi ini, kita siap menghadapi Monev TP3S Kabupaten dengan penuh optimisme,” katanya.

Ketua Tim Penggerak PKK Kecamatan menekankan peran TP PKK dan TP3S dalam edukasi ibu hamil serta akses gizi. “Sinergi antara TP PKK, Puskesmas, dan kader Posyandu merupakan kunci utama keberhasilan program stunting dan ketahanan keluarga,” ujarnya. DP3AKB menjelaskan Satyagatra sebagai pendekatan komprehensif, sambil mengingatkan pembaruan data keluarga sasaran secara partisipatif.

KUA dan Puskesmas Ajung berkomitmen pada pembinaan spiritual serta intervensi sensitif seperti PHBS dan pemantauan posyandu. Kader desa berbagi tantangan pendataan dan konseling, dengan salah satu kader dari Desa Pancakarya menyatakan: “Kadang kami menemukan keluarga yang enggan terbuka. Tapi dengan pendekatan Satyagatra, kami bisa masuk lewat sisi kemanusiaan dan kasih sayang. Itu yang membuat mereka mau berubah.”

Fokus utama adalah persiapan Monev TP3S Kabupaten Jember pada 6 November 2025, termasuk administrasi dan implementasi lapangan. Camat Ajung menegaskan kesiapan Ajung sebagai contoh kolaborasi.

Menuju Keluarga Tangguh dan Bebas Stunting

Kedua kegiatan di Ajung mencerminkan tema sentral TP3S sebagai motor penggerak penurunan stunting melalui sinergi TPPPS, TPK, dan elemen masyarakat. Capaian seperti peningkatan kesadaran HPK dan kunjungan posyandu menjadi modal, sementara tantangan mendorong tindak lanjut seperti coaching clinic dan pelatihan. Dengan komitmen berkelanjutan, Kecamatan Ajung berpotensi menjadi model praktik baik dalam pembangunan keluarga berkualitas, mendukung visi Bangga Kencana untuk Indonesia sejahtera.

Related Articles

Back to top button