Perkuat Kesiapsiagaan Bencana: Serangkaian Sosialisasi Kelurahan Tangguh Bencana (KTB) di Sumbersari Sukses Digelar

Jember, 8 November 2025 – Pemerintah Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember, terus mengintensifkan upaya pembentukan Kelurahan Tangguh Bencana (KTB) atau Katana melalui serangkaian rapat, pendalaman, dan sosialisasi di berbagai kelurahan pada November 2025. Kegiatan ini melibatkan aparatur pemerintah, relawan, tokoh masyarakat, serta narasumber dari instansi terkait, dengan tujuan utama meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap potensi bencana alam dan nonalam. Dimulai sejak awal bulan, program ini menekankan kolaborasi lintas sektor untuk menciptakan lingkungan yang mandiri, adaptif, dan cepat pulih dari dampak bencana.
Rapat di Kranjingan dan Pendalaman Struktur KTB
Pada Senin, 3 November 2025, Kelurahan Kranjingan mengikuti Rapat Fasilitasi Kelurahan Tangguh Bencana yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kecamatan Sumbersari di Pendopo Kecamatan Sumbersari. Acara ini dihadiri Plt Camat Sumbersari, Kepala Seksi Pemberdayaan Masyarakat dan Kesejahteraan Sosial (PMKS) Kecamatan Sumbersari, Lurah Kranjingan beserta staf, anggota Destana, serta narasumber dari Tagana Kabupaten Jember dan LPBI NU. Rapat serupa juga digelar secara hybrid melalui Zoom dan tatap muka di Pendopo Kelurahan Sumbersari, melibatkan tiga kelurahan yaitu Sumbersari, Kranjingan, dan Antirogo, dengan masing-masing 30 peserta.
Plt Camat Sumbersari, Deni Hadiatullah, S.IP, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah kelurahan, masyarakat, dan instansi terkait. “Kesiapsiagaan harus dimulai dari tingkat paling bawah, yakni kelurahan, karena masyarakat setempatlah yang pertama kali menghadapi dampak bencana,” ujarnya. Lurah Sumbersari, Bhatara Pragusta, ST, menambahkan bahwa KTB bertujuan menumbuhkan empati terhadap korban bencana, seperti bantuan langsung kepada korban kerobohan barongan bambu di Jl. Jawa beberapa minggu sebelumnya.
Narasumber dari Tagana memaparkan peran dalam evakuasi, logistik, dan dukungan sosial, sementara LPBI NU fokus pada mitigasi pohon tumbang akibat angin kencang. Zaenal Abidin, SPd, dari LPBI NU, menjelaskan prosedur inspeksi pohon: memeriksa kondisi daun, batang, akar, cabang mati, serta mendokumentasikan temuan. Ia juga menyarankan menghubungi BPBD segera saat menemukan bencana, menghindari pohon dekat kabel listrik, dan mendokumentasikan kerusakan untuk laporan. Peran pemerintah mencakup pemeliharaan rutin pohon, sistem pelaporan, dan regulasi penanaman pohon aman.
Pelatihan Serentak di Empat Kelurahan
Rangkaian kegiatan berlanjut pada Kamis, 6 November 2025, dengan pelatihan serentak di empat kelurahan: Kebonsari, Wirolegi, Karangrejo, dan Tegalgede. Pembukaan dilakukan secara daring, diikuti sesi tatap muka di masing-masing pendopo. Di Kelurahan Kebonsari, 30 peserta Taruna Tangguh Bencana dari unsur masyarakat, karang taruna, dan kader sosial aktif hadir, didampingi Plt Camat Sumbersari, Kasi PMKS, dan Dinas Sosial Kabupaten Jember.
Narasumber dari Dinas Sosial menjelaskan jenis bencana alam (banjir, gempa bumi), nonalam (kebakaran, wabah penyakit), dan sosial (konflik, informasi palsu). Tahapan penanganan mencakup pencegahan (membersihkan saluran air, memangkas pohon, menyiapkan jalur evakuasi), penanganan cepat, dan pemulihan. Mitigasi pohon tumbang ditekankan sebagai isu krusial, dengan contoh kejadian di Jember yang menyebabkan kerusakan jalan. Peserta diajak diskusi pengalaman pribadi, mendorong rencana gotong royong dan grup komunikasi darurat di tingkat RT/RW.
Sosialisasi dan Praktik di Antirogo
Di Kelurahan Antirogo, sosialisasi Katana digelar pada 3 November 2025 di Pendopo Kelurahan, dihadiri Lurah Antirogo, staf, tokoh masyarakat, ketua RT/RW, dan tokoh agama. Narasumber dari Forum PRB Provinsi Jatim BPBD Kabupaten Jember dan Dinas Sosial menjelaskan definisi KTB sesuai Peraturan Kepala BNPB Nomor 1 Tahun 2012: wilayah mandiri yang adaptif dan cepat pulih. Jenis ancaman di Jawa Timur meliputi banjir, tanah longsor, kekeringan, gempa bumi, dan kebakaran hutan.
Penguatan kapasitas masyarakat melalui pengenalan risiko, rencana penanggulangan, dan pembentukan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) menjadi fokus. Konsep Pentahelix—kerjasama pemerintah, akademisi, dunia usaha, masyarakat, dan media—diperkenalkan untuk jejaring sosial kuat.
Hari ketiga sosialisasi pada Rabu, 5 November 2025, menekankan praktik: simulasi evakuasi mandiri, pertolongan pertama, dan penggunaan peralatan darurat, dipandu instruktur BPBD Kecamatan Sumbersari. Lurah Antirogo menyatakan, “Sosialisasi Katana ini adalah investasi penting bagi keselamatan kita semua. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang kita peroleh hari ini, kita akan lebih siap dan mampu menghadapi bencana dengan lebih baik.”
Komitmen Bersama Menuju Ketangguhan
Melalui serangkaian kegiatan ini, Kecamatan Sumbersari memperkuat struktur KTB yang diresmikan Juni 2025, dengan harapan meningkatkan kapasitas aparatur dan masyarakat dalam pencegahan, mitigasi, kesiapsiagaan, serta tanggap darurat. Sinergi antara pemerintah, relawan seperti Tagana dan Destana, serta elemen masyarakat menjadi fondasi utama. Program ini tidak hanya membangun keterampilan teknis, tetapi juga jiwa empati dan kebersamaan, memastikan setiap kelurahan siap menghadapi potensi bencana di wilayahnya.



