Pemkab Jember Serap Aspirasi Petani dan Peternak untuk Pertanian Berkelanjutan serta Peningkatan Kesejahteraan Pada Bunga Desaku di Mumbulsari

JEMBER, 9 April 2026 – Pemerintah Kabupaten Jember terus mendekatkan pelayanan kepada masyarakat melalui Program Bunga Desaku (Bupati Ngantor di Desa dan Kelurahan). Di Balai Desa Suco, Kecamatan Mumbulsari, kegiatan ini menjadi wadah langsung bagi petani dan peternak untuk menyampaikan aspirasi serta menerima pembinaan, demi mewujudkan pertanian dan peternakan yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan berorientasi pada kesejahteraan.
Pertemuan Kelompok Tani (Poktan) se-Kecamatan Mumbulsari pada Selasa, 7 April 2026, dihadiri Bupati Jember Muhammad Fawait (Gus Fawait) bersama Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Perkebunan (DTPHP) Drs. Moh. Djamil, M.Si. Forum bertema “Unit Layanan Kompos (ULK) Poktan: Mewujudkan Kemandirian Pupuk dan Kesejahteraan Petani” ini membahas berbagai isu strategis, mulai dari perbaikan infrastruktur hingga pengelolaan lahan dan pupuk.
Aspirasi Infrastruktur dan Kesejahteraan Petani
Perwakilan Poktan Sekarwangi, Abdul Khobir, menekankan pentingnya perbaikan jalan usahatani (JUT) agar distribusi hasil panen lebih lancar sekaligus menarik minat generasi muda untuk bertani. “Supaya generasi muda itu semangat untuk bertani,” ujarnya. Petani juga menyampaikan kebutuhan perbaikan saluran irigasi sekunder yang sudah tua, penanganan saluran irigasi tersumbat, penguatan program pupuk organik, serta peningkatan perlindungan sosial melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Kepala DTPHP Moh. Djamil menyatakan bahwa seluruh masukan petani akan menjadi bahan penyusunan program dan kebijakan ke depan. “Kami hadir di sini untuk mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan dan kendala para petani. Dengan komunikasi seperti ini, kami bisa mengambil langkah yang lebih tepat dalam menyusun program ke depan,” tegasnya. Ia menambahkan bahwa sinergi pemerintah dan petani merupakan kunci pertanian berkelanjutan.
Pupuk Organik sebagai Investasi Jangka Panjang
Diskusi mengenai Unit Layanan Kompos (ULK) menjadi sorotan utama. Pakar pertanian Dr. Bambang Herry Purnomo menjelaskan potensi bahan baku kompos yang melimpah dari limbah pertanian dan peternakan, terutama jerami hasil panen. “Yang paling menguntungkan adalah kita memproduksi sendiri. Bahan yang paling murah itu adalah jerami hasil panen kita. Jadi kalau satu hektar itu jeraminya kira-kira lima ton. Lima ton itu kalau dikomposkan jadinya dua setengah ton,” paparnya.
Menurut Dr. Bambang, kombinasi pupuk organik dan kimia dengan komposisi minimal 40 persen organik dapat meningkatkan hasil panen hingga 10 persen dalam jangka panjang, meski tidak instan. Pendekatan ini diharapkan menekan biaya produksi, meningkatkan kesuburan tanah, serta memperkuat kemandirian petani.
Tantangan Lahan dan Paradigma Baru Pertanian
Forum juga membahas tantangan struktural. Rata-rata kepemilikan lahan petani di Jember hanya sekitar 2.500 meter persegi, sehingga pendapatan sering kali di bawah Rp2 juta per bulan. Kandungan bahan organik tanah saat ini rata-rata hanya 2 persen, di bawah standar minimal 3 persen, akibat ketergantungan pupuk kimia yang berlebihan. Hal ini menyebabkan tanah semakin keras dan produktivitas cenderung stagnan.
Dr. Bambang Herry Purnomo menegaskan perlunya pergeseran paradigma. “Petani di Kabupaten Jember itu tidak boleh hanya meningkat produksinya. Kalau produksinya meningkat, tapi pendapatannya tidak naik signifikan, itu juga tidak boleh,” katanya. Dinas DTPHP mendorong program bantuan alat mesin pertanian, benih, subsidi pupuk, serta optimasi lahan untuk menyeimbangkan peningkatan produksi dan pendapatan petani.
Pembinaan Peternakan
Komitmen program Bunga Desaku tidak hanya pada tanaman pangan. Pada Senin, 6 April 2026, Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Perikanan (DKPPP) Kabupaten Jember menggelar pembinaan tata kelola pembibitan domba Suffolk di Harjo Lestari Integrated Farm, Desa Lampeji, Kecamatan Mumbulsari. Kegiatan bertema “Pembinaan Tata Kelola Pembibitan Domba Suffolk dalam Upaya Peningkatan Mutu Genetik Ternak” ini diikuti peternak se-kecamatan.
Narasumber Huda, pemilik Harjo Lestari Integrated Farm, menekankan ketekunan, manajemen pakan, dan pemilihan bibit unggul. Sementara Pengawas Bibit Ternak DKPPP Ir. Purwoto, S.Pt., menjelaskan standar regulasi pembibitan untuk meningkatkan daya saing. “Penerapan tata kelola pembibitan yang sesuai standar akan berdampak langsung pada kualitas genetik ternak,” jelas Purwoto.
Melalui Program Bunga Desaku, Pemkab Jember membuktikan komitmen membangun sektor pertanian dan peternakan berbasis kebutuhan riil di lapangan. Aspirasi petani dan peternak yang diserap langsung akan menjadi dasar kebijakan yang lebih tepat sasaran. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta pertanian yang tidak hanya produktif, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan peternak secara berkelanjutan di Kabupaten Jember.



