Pemkab Jember Perkuat Upaya Penurunan AKI dan AKB melalui Program Kespro dan Kolaborasi Lintas Sektor

Jember, 5 Agustus 2025 – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jember terus memperkuat komitmennya dalam menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) melalui Penguatan Pelayanan Terpadu Kesehatan Reproduksi (PPT Kespro). Upaya ini didukung dengan monitoring dan evaluasi (monev) triwulan II tahun 2025 oleh Direktorat Jenderal Bina Pembangunan Daerah (BinaBangda) untuk memastikan progres yang signifikan. Dengan pendekatan lintas sektor, Pemkab Jember berfokus pada peningkatan kesehatan ibu dan anak serta pencegahan perkawinan anak untuk menciptakan generasi yang lebih sehat dan sejahtera.
Pendekatan Multisektor untuk Kesehatan Ibu dan Anak
Penurunan AKI dan AKB menjadi prioritas utama yang melibatkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di Jember. Fokus utama meliputi screening kesehatan ibu sebelum hamil, perencanaan kehamilan yang diinginkan, serta peningkatan kesejahteraan ibu dan anak melalui pembiayaan yang memadai. Program ini juga didukung oleh keterlibatan relawan pendamping ibu hamil, penyediaan suplemen zat besi (FE), dan pemanfaatan Aplikasi Family Folder (AFF) untuk memantau kesehatan keluarga secara terpadu.
Dinas Kesehatan Kabupaten Jember, bekerja sama dengan rumah sakit, terus meningkatkan kesiapan sarana, prasarana, alat kesehatan, serta kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Monitoring terhadap 11 rumah sakit, termasuk enam rumah sakit rujukan, telah dilakukan untuk memastikan pelayanan maternal dan neonatal memenuhi standar prosedur yang ditetapkan. Langkah ini diharapkan dapat mengurangi risiko komplikasi selama kehamilan dan persalinan.
Sosialisasi Kesehatan Reproduksi dan Pencegahan Perkawinan Anak
Untuk meningkatkan pemahaman masyarakat, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Jember berkolaborasi dengan Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan menggelar sosialisasi kesehatan reproduksi setiap tahun ajaran baru sejak 2023. Sasaran utama sosialisasi ini adalah remaja dan calon pengantin, dengan tujuan membentuk kesadaran tentang pentingnya perencanaan keluarga dan kesehatan reproduksi. Meski demikian, kendala pembiayaan seperti biaya pemeriksaan laboratorium dan konseling psikologis masih menjadi tantangan. Untuk mengatasinya, DP3AKB telah mengalokasikan anggaran khusus bagi konseling melalui Tim Pendamping Keluarga (TPK).
Selain itu, upaya pencegahan perkawinan anak menjadi fokus penting. Data dari Kementerian Agama menunjukkan bahwa pada 2024, sebanyak 17.700 pernikahan di Jember terjadi di bawah usia 19 tahun, dengan tren yang kini bergeser ke wilayah selatan seperti Kecamatan Ledokombo dan Silo. Untuk menangani hal ini, pemerintah desa di kedua kecamatan tersebut telah mengalokasikan Dana Desa guna mendukung program pencegahan melalui pendekatan edukasi dan budaya. Surat Edaran dari Dinas Pendidikan dan Kementerian Agama juga diterbitkan untuk memperkuat edukasi sejak usia sekolah.
Kolaborasi Akademik dan Program Inovatif
Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) turut berkontribusi melalui penyediaan media edukasi dan inisiasi program Geliat. Program ini melibatkan dosen, praktisi kesehatan, serta relawan mahasiswa dari Universitas Jember (UNEJ), Universitas Muhammadiyah (UNMU), Politeknik Jember, dan Al Qodiri. Para relawan mendapatkan pelatihan dan sertifikasi untuk mendampingi ibu hamil dan nifas secara berkelanjutan selama tiga bulan, memberikan nilai tambah dalam pendampingan kesehatan.
Program SUAR Indonesia, yang telah berjalan sejak 2021, menjadi rujukan dalam implementasi kebijakan lintas sektor. Selain itu, Kementerian Agama menekankan pentingnya verifikasi data pasangan menikah, khususnya yang tidak memiliki dokumen seperti Kartu Keluarga, untuk mencegah legalisasi nikah siri melalui Surat Keterangan Menikah (SKM). Isbat nikah juga ditegaskan hanya sebagai solusi hukum, bukan program tahunan yang dapat memicu miskonsepsi di masyarakat.
Optimisme Menuju Penurunan AKI, AKB, dan Stunting
Melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk pemerintah, akademisi, dan masyarakat, Pemkab Jember optimis dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi, kasus stunting, serta perkawinan anak secara signifikan. Langkah strategis ini tidak hanya berfokus pada pelayanan kesehatan, tetapi juga pada edukasi, pemberdayaan masyarakat, dan penguatan regulasi. Dengan komitmen yang kuat dan pendekatan terpadu, Jember berupaya mewujudkan masyarakat yang lebih sehat dan sejahtera di masa depan.



