Pemerintah Jember Perkuat Kapasitas TPK untuk Percepat Penurunan Angka Stunting

Jember, 12 Oktober 2025 – Pemerintah Kabupaten Jember melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) intensif melaksanakan kegiatan penguatan kapasitas Tim Pendamping Keluarga (TPK) di berbagai kecamatan. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kader TPK dalam mendampingi keluarga berisiko stunting (KRS), sebagai bagian dari strategi percepatan penurunan angka stunting di Jember. Dalam sepekan, puluhan lokasi di berbagai kecamatan telah menjadi sasaran pelatihan intensif yang melibatkan penyuluh, perangkat desa, dan tenaga kesehatan.

Pelatihan Intensif di Berbagai Kecamatan

Pada pekan pertama Oktober 2025, DP3AKB Jember melaksanakan orientasi kinerja dan potensi TPK di 13 lokasi, termasuk Kecamatan Sukowono, Jenggawah, Bangsalsari, Pakusari, Sumberjambe, Ledokombo, Jelbuk, Mayang, Jombang, Gumukmas, serta Desa Wonorejo dan Kraton di Kecamatan Kencong. Kegiatan yang berlangsung dari 6 hingga 9 Oktober 2025 ini mencakup pelatihan tentang pemahaman stunting, strategi pendampingan keluarga, intervensi spesifik dan sensitif, serta peningkatan keterampilan komunikasi.

Kabid Keluarga Berencana Keluarga Sejahtera (KBKS) DP3AKB Jember, Diana Ruspita Malasari, S.KM., menjelaskan bahwa pelatihan ini bertujuan mengoptimalkan pengetahuan dan keterampilan kader TPK dalam mendampingi KRS. “Kami memberikan materi mendalam, termasuk simulasi peran seperti yang dilakukan di Bangsalsari, agar kader mampu memberikan edukasi dan pendampingan secara efektif,” ujar Diana.

Di Kecamatan Ledokombo, kegiatan serupa digelar pada 7 Oktober 2025 di Aula Pendopo Kecamatan. Pelatihan ini dihadiri oleh Camat Ledokombo, Ketua Tim Penggerak PKK, serta berbagai unsur seperti tenaga kesehatan dan kepala desa. Camat Ledokombo menegaskan pentingnya peran TPK sebagai ujung tombak sosialisasi program pemerintah, termasuk Universal Health Coverage (UHC) Prioritas dan Beasiswa Cinta Bergemar, yang diharapkan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

Sinergi Antarpihak untuk Sukseskan Program

Kegiatan penguatan kapasitas TPK juga menunjukkan kolaborasi erat antara pemerintah kecamatan, desa, dan tenaga kesehatan. Di Kecamatan Jenggawah, misalnya, Camat dan Ketua TP PKK Kecamatan turut aktif mendukung pelatihan, memastikan sinergi dengan perangkat setempat. Hal serupa terlihat di Kecamatan Balung, di mana Camat Agus Sucahyo, S.Sos., membuka kegiatan pada 6 Oktober 2025 dan menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor untuk membangun keluarga sehat dan sejahtera.

Narasumber dari PLKB Kabupaten Jember, Ahmad Muafiq Azmi, A.Md.Kom., dalam pelatihan di Balung, menyoroti pentingnya pendataan akurat dan kunjungan rutin untuk mendukung program penurunan stunting, angka kematian ibu (AKI), dan angka kematian bayi (AKB). Sesi interaktif di akhir kegiatan memungkinkan kader TPK berbagi pengalaman dan mencari solusi atas tantangan di lapangan.

Komitmen Jangka Panjang Pemerintah

Sekretaris DP3AKB Jember, dr. Wiwik Supartiwi, M.Kes., menyatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang pemerintah untuk menciptakan generasi bebas stunting. “Pendampingan harus dilakukan dengan cerdas dan ikhlas. Kami yakin, dengan kerja sama semua pihak, angka stunting di Jember akan terus menurun,” ujarnya. Pelatihan serentak pada 6 Oktober 2025 di Kecamatan Balung, Sukorambi, Wuluhan, dan Mumbulsari menjadi bukti pendekatan sistematis yang diterapkan.

DP3AKB Jember berencana melanjutkan kegiatan serupa sepanjang Oktober 2025 di kecamatan, desa, dan kelurahan. Dengan pendekatan interaktif dan aplikatif, para kader diharapkan mampu menerapkan ilmu yang diperoleh secara langsung di masyarakat.

Menuju Jember Bebas Stunting

Kegiatan penguatan kapasitas TPK ini mencerminkan upaya terpadu Pemerintah Kabupaten Jember dalam menurunkan angka stunting melalui pemberdayaan masyarakat. Dengan melibatkan kader TPK sebagai garda terdepan, didukung oleh pemerintah kecamatan, desa, dan tenaga kesehatan, Jember bergerak menuju visi keluarga sehat dan berkualitas. Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pelatihan, tetapi juga pada komitmen bersama untuk menerapkan ilmu di lapangan, memastikan setiap keluarga berisiko stunting mendapatkan pendampingan yang optimal.

Related Articles

Back to top button