Advokasi Imunisasi di Pesantren: Dinkes PPKB Jember bersama UNICEF Perkuat Cakupan Lawan Hoaks, Zero Dose, dan KLB Campak

JEMBER, 3 April 2026 – Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Jember bersama UNICEF terus memperkuat program imunisasi melalui serangkaian kegiatan advokasi dan supervisi yang melibatkan pesantren serta organisasi masyarakat Islam. Upaya ini bertujuan meningkatkan cakupan imunisasi, menekan hoaks, serta mencegah Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), khususnya campak, yang saat ini terjadi di beberapa puskesmas.
Kegiatan yang berlangsung secara serentak pada Rabu, 1 April 2026, digelar di berbagai lokasi strategis, antara lain Puskesmas Kencong, Pondok Pesantren Assuniyah Kencong, Kantor PCNU Kencong, serta Pondok Pesantren Subulussalam di Desa Sidomulyo, Kecamatan Semboro. Tim supervisi yang dipimpin Consultant National Provincial Immunization UNICEF, Suradi, SKM., M.Kes., bersama perwakilan Dinkes PPKB Kabupaten Jember melakukan evaluasi capaian, identifikasi tantangan, dan penguatan strategi pendekatan masyarakat.
Fokus utama advokasi ini adalah membangun kepercayaan publik melalui pendekatan berbasis kultural dan keagamaan. Tim Penelaah Teknis Kebijakan Dinkes PPKB Kabupaten Jember, Syahroni Bahtiar, S.Kep., Ners., M.Kes., menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci keberhasilan program. “Harapan kami setelah kunjungan bersama UNICEF ini, ada dampak positif terkait peningkatan cakupan imunisasi di Kabupaten Jember. Artinya, sinergi kita dengan pesantren dan ormas Islam dapat menyisir hoaks masalah imunisasi, terutama terkait kultur dan keyakinan,” ujar Syahroni.
Pesantren dan PCNU sebagai Garda Depan Edukasi Masyarakat
Di Kencong, advokasi menyasar langsung Pondok Pesantren Assuniyah dan PCNU Kencong. Suradi menekankan perlunya pelaksanaan Outbreak Response Immunization (ORI) dan kampanye imunisasi campak secara serentak serta berkelanjutan. Ia menilai pesantren sebagai mitra potensial karena memiliki pengaruh kuat dalam membentuk perspektif sosial dan keagamaan masyarakat sekitar.
Pengasuh Pondok Pesantren Assuniyah Kencong, Nyai Nur Aini Farida, menyatakan kolaborasi ini sangat membantu pengawasan imunisasi santri. Sementara Wakil Sekretaris PCNU Kencong, Aminullah, M.Pd., menyambut baik sinergi tersebut. Ia menyebut jaringan PCNU yang mencakup Muslimat NU, Fatayat NU, GP Ansor, dan IPNU dapat disinergikan tidak hanya untuk sosialisasi imunisasi campak, melainkan juga program promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) serta pencegahan penyakit menular lainnya.
Di Semboro, kegiatan berlangsung di Pondok Pesantren Subulussalam dan Ponkesdes Sidomulyo. Suradi kembali menyoroti kondisi imunisasi di Jember yang masih memerlukan perhatian serius. “Jember adalah salah satu kabupaten di Jawa Timur yang kondisi imunisasinya tidak baik-baik saja. Sekarang ada KLB campak di 3 puskesmas yaitu Sumberjambe, Ledokombo dan Silo 2,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa langkah pencegahan KLB harus mencakup ORI, kampanye campak, dan peningkatan kolaborasi lintas sektor agar cakupan imunisasi tinggi, merata, dan bermutu.
Pengasuh PP Subulussalam, Kyai Abd Muhid (Abdul Muhid), memberikan dukungan penuh. “Imunisasi adalah bagian dari ikhtiar dan amanah untuk melindungi generasi anak-anak kita dari penyakit berbahaya, menular dan mematikan. Imunisasi itu aman dan halal,” tegasnya. Dukungan serupa disampaikan Kepala Desa Sidomulyo, Wasiso, S.IP, yang menyatakan kesiapan desa mendukung program pemerintah demi generasi penerus bangsa.
Tenaga Kesehatan dan Lintas Sektor Didorong Berinovasi
Dalam setiap lokasi, tenaga kesehatan di puskesmas diingatkan kembali sebagai garda terdepan edukasi. Tim promosi kesehatan didorong berinovasi menyampaikan informasi agar pesan kesehatan lebih mudah diterima seluruh lapisan masyarakat. Camat Kencong Ronny Arvianto dan Camat Semboro turut hadir, menegaskan keberhasilan program bergantung pada keterlibatan seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan aparat keamanan seperti Babinsa TNI dan Bhabinkamtibmas POLRI.
Syahroni Bahtiar menambahkan bahwa kesehatan anak bukan hanya tanggung jawab petugas kesehatan, melainkan tanggung jawab kolektif. “Dengan adanya dukungan dari tokoh lokal, tingkat partisipasi masyarakat di posyandu atau puskesmas diharapkan meningkat, sehingga kekebalan kelompok atau herd immunity dapat tercapai,” katanya.
Melalui sinergi ini, Pemkab Jember menegaskan komitmen menciptakan lingkungan sehat dan terlindungi dari PD3I. Pendampingan UNICEF mencakup perencanaan, pelaksanaan, hingga monitoring dan evaluasi, memastikan setiap anak mendapatkan hak perlindungan kesehatan melalui imunisasi lengkap. Dengan pendekatan yang melibatkan pesantren dan ormas Islam sebagai garda depan, diharapkan cakupan imunisasi terus meningkat, hoaks dapat ditepis, dan ancaman KLB campak dapat dicegah demi mewujudkan generasi Jember yang sehat, tangguh, dan berkualitas.



